Jumat, 30 Januari 2015

Ilmu Komunikasi FISIP : komunikasi penyuluhan frida

Ilmu Komunikasi FISIP : komunikasi penyuluhan frida







Analisis
sistem komunikasi zaman kepemimpinan orde baru dan perbandingan dengan zaman
reformasi
          Orde baru
yang dibentuk menyusul tumbangnya rezim Orde Lama di bawah Soekarno. Konstitusionalisme
adalah kata kunci penting yang mendominasi wacana yang kiprah politik pada
kurun waktu bentukan orde baru sekitar 1967-1977. Salah satu implementasinya
dalam ruang politik adalah ditegakkannya prinsip perwakilan rakyat dengan
pemilu sebagai tonggak utama dan pembentukan Dewan Perwakilan Rakyat dan
kemudian MPR sebagai lembaga-lembaga tinggi dan tertinggi negara yang
menjalankan asas kedaulatan rakyat. Pada tataran resmi, Orde Baru secara
konsisten berusaha mewujudkan konstitusionalisme tersebut dalam wacana dan
kiprah politik. Komunikasi dalam politik akan sangat mempengaruhi kinerja
politik (atau sistem politik) yang sedang dijalankan. Berbagai macam kebijakan
negara tidak akan tersosialisasikan dan terlaksana dengan baik jika tidak
adanya komunikasi. Mengutip pendapaat Gabriel Almond, komunikasi ibarat aliran
darah yang mengalirkan pesan politik berupa tuntutan, protes dan
dukungan(aspirasi dan kepentingan) ke jantung (pusat) pemprosesan sistem
politik. Dan hasil pemprosesan itu dialirkan kembali oleh komunikasi politik
yang selanjutnya menjadi feedback sistem
politik (Nurudin, 2004). Satu realitas yang sangat menarik adalah politik Orde
Baru (Orba). Sebab tanpa disadari, orba telah menciptakan tradisi politik yang
sangat khas dibanding dengan rezim lain. Ia juga sangat relevan kerena kukuh
selama hampir 32 tahun tanpa goyah dan tanpa kontrol secara efektif.
Kepemimpinan pada era Soeharto pada masa Orde Baru
          Kekuatan
rakyat yang besar tersebut akan sangat kontradiktif ketika kita mengamati
perilaku politik Orde Baru (OrBa).  Pada
masa Orba, ada kesulitan untuk mendefenisikan sosok rakyat dan posisinya dalam
ruang publik. Posisi rakyat serba tidak jelas bahkan semakin absurb (tidak masuk akal). Ia kadang
diposisikan sebagai kekuatan sentral dan subjek utama dalam sejarah. Namun
begitu ia kadang berada di pinggiran sebagai pihak yang tak berdaya. Rakyat
sering pula menjadi kedok yang dikibarkan kepentingan lain yang tersembunyi.
Perilaku politik berubah total tatkala Soeharto mengundurkan
diri dari jabatan presiden, 21 Mei 1998. Sistem sosial dan politik berubah.
Rakyat yang sebelumnya sangat terbelunggu, menjadi bebas bahkan terkesan liar.
     Sistem komunikasi
pasca Soeharto juga tidak serta merta sistem komunikasi di Indonesia terbuka
sesuai harapan ideal masyarakat. Pasca ini ibarat “kuda lepas dari kandang”.
Semua elemen dalam komunikasi inginnya bebas tanpa kekangan. Pers pun juga
menuntut keterbukaan yang selama ini dikekang oleh pemerintah Habibie mencabut
SIUPP dan mengluarkan UU pokok pers yang baru No. 40 Tahun 1999. Maka,
dimulailah era keterbukaan dimulai.
Sehubungan dengan kekuasaan
yang dijalankan pemerintah Orba, Benedict ROG Anderson membandingkan antara
pemerintah Sunan Amangkurat I (Mataram Jawa, Yogyakarta) dengan Soeharto (Orde
Baru). Hasil penelitian Anderson tersebut menyimulkan bahwa kekuasaan Orba
adalah sama dengan kekuasaan Sunan Amangkurat I, Yakni homogen, mengumpul, dan
berjumlah tetap. Artinya, antara pemegang kekuasaan dengan gejala kekuasaan dipandang
merupakan satu kesatuan. Dengan demikian aktivitas politik pada dasarnya harus
terpusat pada si pemegang kekuasaan ( Nurudin, 2004:56). Sejak Orba, presiden
berposisi sebagai pemegang kekuasaan tanpa kontrol sevara efektif.
Ada beberapa catatan yang
bisa ditarik ketika kita memperbincangkan komunikasi sebagai proses politik
sebagai berikut:
1.      Komunikasi memiliki peran signifikan dalam menentukan proses
perubahan politik di Indonesia. Ini bisa dilihat pada perubahan format lembaga
kepresidenan yang dahulunya sakral kemudian mengalami desakralisasi. Ini semua
diakibatkan terbinanya komunikasi politik yang lebih baik antara masyarakat dan
pemerintah.
2.      Kita pernah mewarisi komunikasi politik yang tertutup(yang
mengakibatkan ideologi politik yang tidak terbuka), penafsiran ada pada pihak
penguasa (mendominasi dan mengontrol semua bagian) sehingga memunculkan
hagemoni komunikasi dan pola komunikasi top
down
(yang memunculkan sikap indoktrinatif).
3.      Komunikasi masih dipengaruhi oleh tradisi politik masa lalu.
Tradisi politik mementingkan keseimbangan, harmoni, dan keserasian masih
diwujudkan meskipun dalam kenyataannya kadang justru tradisi itu dijadikan alat
legitimasi politik penguasa atas nama stabilitas.
4.      Sebagai proses politik komunikasi menjadi alat yang mampu
mengalirkan pesan politik(tuntutan dan dukungan ) kepusat kekuasaan untuk
diproses. Proses itu kemudian dikeluarkan kembali dan seanjutnya menjadi umpan
balik (feedback). Ini artinya,
komunikasi sebagai proses politik adalah aktivitas tanpa henti.
Komunikasi yang terjadi
pada proses sosial ini kenyataannya berhadapan antara masyarakat dengan manusia
ada hubungan saling mempengaruhi tersebut dibangun tak lain dengan proses
komunikasi. Dengan kata lain, komunikasi dalam hal ini sebagai sebuah proses
sosial di masyarakat. Proses sosial diartikan sebagai pengaruh  timbal balik diantara berbagai kehidupan
bersama (individu, masyarakat, organisasi, lembaga kemasyarakatan, asosiasi,
dan lain-lain). Dalam hubungannnya dengan proses sosial, komunikasi menjadi
sebuah cara dalam melakukan perubahan sosial (social change). Komunikasi berperan menjembatani perbedaan dalam
masyarakat kerena mampu merekatkan kembali sistem sosial masyarakat dalam
usahanya melakukan perubahan. Nemun begitu, komunikasi juga tak akan lepas dari
konteks sosialnya.
Komunikasi sebagai proses
sosial adalah bagian integral dari masyarakat. Secara garis besar komunikasi
sebagai proses sosial di masyarakat memiliki fungsi-fungsi sebagai berikut:
1.      Komunikasi menghubungkan antarberbagai komponen masyarakat.
Komponen disini tidak hanya individu dan masyarakat saja, melainkan juga
berbagai bentuk lembaga sosial (pers, humas, universitas), asosiasi,
stratifikasi sosial, organisasi desa.
2.      Komunikasi membuka peradaban (civilization) baru manusia. Menurut Koentjaraningrat (1997),
istilah peradaban dipakai untuk bagian-bagian dan unsur-unsur dari kebudayaan
yang halus dan indah, seperti kesenian, ilmu pengetahuan serta sopan santun dan
sistem pergaulan yang kompleks dalam suatu struktur masyarakat yang kompleks
pula. Komunikasi telah mengantarkan peradaban negara Barat menjadi maju dalam
ilmu pengetahuan.
3.      Komunikasi adalah menifestasi kontrol sosial dalam
masyarakat. Berbagai nilai (value),
norma (norm), peran (role), cara (usage), kebiasaan (folkways), tata kelakuan (mores), dan adat (customs)
dalam masyarakat yang mengalami penyimpangan (deviasi) akan dikontrol dengan komunikasi, baik melalui bahasa
lisan, sikap apatis atau perilaku nonverbal individu.
4.      Tanpa bisa diingkari komunikasi berperan dalam sosialisasi
nilai ke masyarakat. Bagaimana sebuah norma kesopanan disosialisasikan kepada
generasi muda dengan contoh perilaku orangtua (nonverbal) atau dengan peryataan
nasihat langsung  (verbal); juga bisa
dilihat ketika seorang anak dimarahi orang tua gara-gara berkata jorok didepan
orang tuanya.
5.      Individu berkomunikasi dengan orang lain menunjukkan jati
diri kemanusiaannya. Seseorang akan diketahui jati dirinya sebagai manusia
karena menggunakan komunikasi. Itu juga berarti komunikasi menunjukkan
identitas sosial seseorang. Misalnya, penggunaan bahasa dari kalangan “bawah”
dengan kalangan ningrat akan berbeda. Dalam pribahasa sering dikenal bahasa
menunjukkan bangsa. Bahasa sebagai alat komunikasi menunjukkan jati diri
individu yang bersangkutan.
Sedangkan komunikasi yang
terjadi pada budaya ialah komunikasi yang ditujukan pada orang atau kelompok
lain adalah sebuah pertukaran kebudayaan. Misalnya, anda berkomunikasi dengan
suku Aborigin Australia, secara tidak langsung Anda sedang berkomunikasi
berdasarkan kebudayaan tertentu milik Anda untuk menjalin kerja sama atau
mempengaruhi kebudayaan lain. Hubungan antara komunikasi dengan isi kebudayaan
ialah:
1.      Dalam mempraktikkan komunikasi manusia membutuhkan
peralatan-peralatan tertentu. Secara minimal komunikasi membutuhkan sarana
berbicara, seperti mulut, bibir dan hal-hal yang berkaitan dengan bunyi ujaran.
2.      Komunikasi menghasilkan mata pencaharian hidup manusia.
Komunikasi yang dilakukan lewat televisi misalnya, membutuhkan orang yang
digaji untuk “mengurusi” televisi.
3.      Sistem kemasyrakatan menjadi bagian tak terpisahkan dari
komunikasi, misalnya sistem hukum Indonesia. Dalam bidang pers dibutuhkan
jaminan kepastian hukum agar terwujud kebebasan pers.
4.      Komunikasi akan menemukan bentuknya secara lebih baik
manakala menggunakan bahasa sebagai alat penyampai pesan kepada orang lain.
5.      Sistem pengetahuan atau ilmu pengetahuan merupakan substansi
yang tak lepas dari komunikasi.
Pemerintahan Orde Baru dibawah pimpinan Jenderal Soeharto
yang mulai memegang kekuasaan pada bulan Maret 1996 memberikan prioritas utama
bagi pemulihan roda perekonomian. Satu perubahan ekonomi yang sangat penting
yang sangat terjadi di Indonesia selama sepuluh tahun belakangan ini adalah
penerapan teknologi baru diberbagai bidang kegiatan ekonomi beserta
akibat-akibat yang timbul darinya, terutama yang terjadi didaerah perdesaan.
Bidang pertanian diawal pemerintahan Orde Baru, bersamaan dengan timbulnya
revolusi hijau, telah mengakibatkan banyak perubahan dalam tata cara penanaman
padi.
Sistem pers dalam sistem komunikasi
     Sistem pers adalah
subsistem dari sistem komunikasi Indonesia, yang menempatkan sistem kenegaraan
Indonesia sebagai suprasistemnya. Unsur yang paling penting dalam sistem pers
adalah media massa (cetak dan elektronik). Media massa menjalankan fungsi unuk
mempengaruhi sikap dan perilaku masyarakat. Melalui media, masyarakat dapat
menyetujui atau menolak kebijakan pemerintah. Lewat media pula berbagai inovasi
atau pembaruan bisa dilaksanakan oleh masyarakat. Inilah peran pentingnya pers.
Pers memiliki dua sisi kedudukan. Pertama,
sebagai medium komunikasi yang tertua dibanding medium yang lain. Kedua, pers sebagai lembaga
kemasyarakatan atau institusi sosial merupakan bagian integral dari masyarakat
dan bukan merupakan unsur asing atau terpisah (Nurudin, 2004).
   Pada pembahasan ini kita flashback lagi fenomena pers pada ere
Orde Baru. Selain sebagai upaya pengayaan wacana, juga untuk merangkai jejak
perkembangan pers Indonesia sehingga diperoleh pemahaman yang lebih utuh. Jika
dicermati, berbagai peringatan pemerintah Orde Baru tersebut justru memicu
kerena kepedulian pers pada kepentingan masyarakat. Ini artinya, pers yang
mendapat peringatan pemerintah sama saja dia mempunyai otonomi, sebab ia berani
menentukan pilihannya untuk berpihak pada masyarakat. Pembatalan tiga
penerbitan sekaligus pada 21 Juni 1994 (Tempo,
Editor, DeTIK
), salah satunya dipidu oleh semangat pers untuk memelihara
otonominya meskipun pada akhirnya terbentur oleh keperkasaan negara. Tidak bisa
dipungkiri dominasi pemerintah pernah sangat kuat dalam kehidupan pers pada era
kekuasaan rezim Orde Baru.
   Yang menjadi perbandingan Orde Baru dengan Orde Reformasi itu ialah
reformasi yang berarti memiliki perbedaan politik dengan segala sesuatu yang
berhubungan dengan politik Orde Baru. Dimana sistem komunikasi pada Orde
Reformasi lebih bersifat terbuka dan bebas serta reformasi mengalami
pertumbuhan yang lebih meningkat dengan orde baru. Pertumbuhan yang sangat
pesat sehingga mempengaruhi peningkatan pada orde tersebut.
   Orde Reformasi menunjukkan kebenaran sederhana yang kiranya semua
orang telah tahu, yaitu bahwa banyak dari pandangan-pandangan asasi reformasi
itu, seperti kebebasan menyatakan pendapat, berkumpul, dan berserikat, adalah pengalaman
pertama bagi kebanyakan warga negara. Agenda reformasi sekarang ini harus
dijalankan dengan sikap cukup hati-hati, sehingga tidak menjurus kepada
lahirnya keadaan yang kontraprodukti. Soal kebebasan, misalnya, agaknya
kearifan lama (yang sering terdengar klise) masih tetap, dan akan selamanya,
berlaku, yaitu bahwa kebebasan harus dilaksanakan secara bertanggung jawab.
Jika terjadi kegagalan dalam eksperimentasi sekarang in, maka berarti penundaan
untuk kesekian alnya bagi pelaksanaann demokrasi di Indonesia.
   Ada tiga dimensi atau lapisan reformasi yang secara analitis harus
dibedakan. Pertama, perbaikan
terhadap semua penyimpangan yang terjadi. (penyimpangan artinya sesuatu yang
sejak lama secara hukum dan ideologis serta sense
of propriety
telah dianggap tidak benar dan tidak pantas). KKN dan
pelanggaran HAM yang bermacam-macam corak itu termasuk dalam dimensi ini. Kedua, penghapusan segala faktor. Baik
yang berupa perundangan dan hukum serta kelembagaan, maupun sistem politik,
yang telah  memungkinkan penyimpangan itu
terjadi. Dan, ketiga, peletakan dasar
baru dari kehidupan kenegaraan. Hasil akhir dari reformasi politik, ekonomi,
dan hukum yang diselenggarakan negara akan memberi dampak langsung dalam
wilayah kemasyarakatan. Formasi sosial, landasan etika sosial, serta orientasi
kultural yang baru akan terbentuk.
Kepemimpinan pada era Habibie pada masa Reformasi
B.J Habibie adalah presiden
ketiga setelah soeharto turun. Kekuasaan presiden yang sangat absolut sedikit
demi sedikit dikurangi dengan adanya desakralisasi lembaga kepresidenan.
Habibie sangat terbuak, bahkan terhadap kritik dan cacaian yang dialamatkan
kepadanya. Kebebasan politik diciptakan, sehingga masyarakat bebas berbuat
sesuatu. Boleh demonstrasi, protes dan sebagainya yang nyaris tidak boleh
dilaksanakan pada Zaman Soeharto. Kebebasan politik ini menjadikan masyarakat
berada pada titik kulminasi emosi tertinggi, sehingga keadaan ini justru
membuat pemerintah kewalahan. Tetapi itulah konsekuensi pelaksanaan kebijakan
Habibie. Contohnya perubahan dalam bidang politik. Pemerintahan Habibie
memperbarui berbagai perundang-undangan dalam rangka meningkatkan kualitas
kehidupn berpolitik yang mengarah pada pemilu seperti yang diamanatkan oleh
GBHN (Garis-garis Besar Haluan Negara). dalam bidang hukum perubahan yang
dilakukan dengan meninjau kembali undang-undang subversi. Dibidang ekonomi
perubahan menekankan pada percepatan penyelesaian undang-undang yang dapat
menghilangkan praktik-praktik monopoli dan persaingan yang tidak sehat. Selain itu
kabinet bentukan soeharto dibubarkan oleh Habibie membentuk kabinet baru dengan
struktur yang baru pula.
Kepemimpinan era K.H Abdurrahman Wahid (Gus Dur ) pada masa
Reformasi
K.H Abdurrahman Wahid (Gus
Dur ) juga giat membangun demokratisasi. Disamping menciptakan desakralisasi
lembaga kepresidenan, ia juga mengadakan komunikasi dengan warga masyarakat
secara lebih baik, misalnya setiap selesai sholat Jumat beliau mengadakan dialog
dengan jamaah. Dengan komunikasi sebagai proses politik, berbagai tatanan
masyarakat akan berubah. Misalnya trasisionalisme.






unsur-unsur yang mempengaruhi
efektivitas pelaksanaan komunikasi penyuluhan
Unsur-unsur dalam proses komunikasi
ialah:
·        
Sumber atau transmiter mengirimkan pesan
melalui saluran kepada penerima.
·        
Penerima
menguraikan atau mengartikan pesan (menuangkan arti pada simbol) dan
mengembangkan suatu gagasan didalam pikirannya yang mungkin atau tidak akan
digunakan (efek komunikasi).
·        
Sumber
mengamati efek tersebut menggunakannya untuk mengevaluasi dampak pesannya
(umpan balik).
   Simbol adalah unsur fisik yang penting bagi
sumber dan penerima. Bentuknya dapat berupa verbal (lisan) seperti kata-kata;
atau visual, seperti tanda-tanda , isyarat atau gambar. Ini merupakan rangkaian
penting bagi komunikasi. Manusia tidak akan memberikan arti yang benar-benar
sama terhadap suatu simbol karena sumber dan penerima mungkin memberi dan
menguraikan lambang suatu pesan dengan cara yang berbeda. Sebagai contoh, dua
orang menggunakan kata yang sama tetapi memberi penafsiran yang berlainan.
Besarnya bagian yang bertumpang tindih menentukan keefektifan komunikasi yang
terjadi, yaitu saat dimilikinya pengertian sama. Dengan demikian, komunikasi didefenisikan sebagai proses mengirim
dan  menerima pesan melalui saluran yang
menciptakan pengertian yang sama antara sumber dan penerima.
     Komunikasi
yang efektif ialah:
·        
Pahami
diri kita sendiri dan mengetahui apa yang menjadi kelemahan dan kekuatan kita.
·        
Pahami
orang lain.
·        
Pahami
pesan yang kita dapat.
·        
Pahami
media yang kita gunakan
·        
Gunakan
bahasa yang menakjubkan, jangan menggunakan bahasa yang berbelit-belit.

Syarat
komunikasi yang efektif ialah:
a.       Adanya keterbukaan dalam penyampaian informasi
b.      Empati dalam memproyeksikan dirinya
terhadap diri orang lain.
c.       Kepositifan yang dimiliki kapada diri
sendiri atau kepada orang lain.
d.      Dukungan, sikap yang dilihatkan
komunikator bahwa poses komunikasi didukung oleh narasumber.
e.       Kesamaan (equality), adanya hubungan
kesamaan antara komunikator dan khalayak dalam penyampaian informasi atau
pesan.
   Program penyuluhan bisa dianalisis untuk
mengidentifikasi faktor-faktor utama yang mempengaruhi situasi. Dalam analisis
seperti itu, ada beberapa hal yang wajib dipertimbangkan seagai berikut.
1.     
Variabel sumber. Pengetahuan, sikap, keterampilan,
berkomunikasi dan status sosial penyuluh akan mempengaruhi keefektifan sebagai
komunikator.
2.     
Variabel pesan. Kode atau bahasa yang terkandung pada
pesan maupun isi dan strukturnya, akan turut berpengaruh. Sebagai contoh, agen
penyuluhan yang merancang pesan mengenai penggunaan yang aman bahan kimiawi
untuk pertanian .
3.     
Veriabel saluran. Penyuluh dapat mengidentifikasi untuk
menghubungi petani dengan tatap muka, berkelompok, media cetak, radio, televisi
atau dengan kombinasi deri berbagai saluran tersebut.
4.     
Variabel penerima. Sama halnya dengan sumber, ditemukan
bahwa keterampilan berkomunikasi, sikap, pengetahuan dan latar belakang sosial
penerima mempengaruhi cara menerima dan menafsirkan pesan.
Ada beberapa hal lain yang perlu
diperhatikan dalam memilih saluran komunikasi.
1)   
Sejauh
mana penerima terlibat di dalam kegiatan yang berkaitan dengan pesannya.
2)   
Besarnya
pendengar atau pemirsa. Siaran radio dapat menjangkau jutaan pendengar.
Pendengar yang jumlahnya besar tidak menjamin sistem belajar yang ekstensif.
3)   
Karakter
pemirsa atau pendengar yang dicapai. Pendengar siaran ilmiah dari radio
misalnya, lebih tertarik pada materi siarannya dan berpendidikan lebih baik
daripada pendengar program olahraga.
4)   
Siapa
yang mengontrol langkah komunikasi? Pendengar dengan tingkat pendidikan lebih
rendah memerlukan waktu lebih banyak untuk memahami pesan daripada mereka yang
lebih berpendidikan.
5)   
Biaya
per orang juga tercapai secara efektif
Agen penyuluhan dimungkinkan untuk
berkomunikasi dengan petani melalui cara demikian: “bahwa penyuluh adalah
seorang yang seharusnya tahu memecahkan masalah petani”, dan diteruskan dengan:
“mari kita bekerja sama untuk menemukan pemecahan masalah Anda.” Komunikasi
nonverbal sangat penting antara agen penyuluhan dan petani karena dengan
kata-kata saja sering tidak bisa terungkapkan ketulusan dalam membantu petani
memecahkan masalahnya. Agen penyuluhan agar sadar akan kata-kata yang diucapkan
tetapi kurang terhadap isyarat nonverbal yang dikirim atau  diterima.
Penyuluhan menghendaki kemampuan yang
tinggi dari agen penyuluhan dengan sikap positif terhadap petani, terutama
hubungan pribadi dalam diskusi bersama. Brammer mengemukakan empat persyaratan
bagi agen penyuluhan yang ingin membantu petani dengan efektif sebagai berikut.
1.     
Mereka
seharusnya menyadari nilai-nilainya dan bertanya pada dirinya sendiri,
“siapakah saya?” dan “apa yang penting bagi saya?” dengan ini mereka dapat
mengembangkan suatu gambaran yang jelas tentang diri dan tujuannya.
2.     
Mereka
seharusnya menyadari akan perasaannya sendiri, terutma hubungannya dengan
petani.
3.     
Agen
penyuluhan merupakan sokoguru bagi petani dalam hal kemampuan memecahkan
masalah dan perilaku emosionalnya.
4.     
Agen
penyuluhan yang efektif mempunyai minat yang kuat terhadap sesamanya dan
perubahan sosial.
Pengaruh
pendekatan-pendekatan komunikasi penyuluhan telah mampu menumbuhkan kesadaran
dan perhatian pada masyarakat petani serta masyarakat yang di desa. Pendekatan
melalui media pendidikan kelihatannya kurang efektif dalam menjangkau
masyarakat desa dibandingkan dengan pendekatan penyuluhan dan pembangunan
masyarakat. Media pendidikan akan efektif berperan manakala dikaitkan dengan
kepentingan-kepentingan para pemuka pendapat di desa. Pendekatan komunikasi
ideologi tidak hanya mengusahakan agar masyarakat menerima pola perilaku baru
tetapi juga menjelaskan  mengapa
perubahan perilaku sangat penting bagi masyarakat maupun bangsa. Hal yang
menjadi penting bagi penyuluhan dalam komunikasi ialah mengubah apa yang
dilakukan orang tanpa mengubah orangnya. Apa yang dilakukan orang orang bukan
dengan cara mengubah apa yang ada dalam dirinya tetapi dengan mengubah
lingkungan dan kondisi dalam mana ia bertindak.
       
Tujuan dalam penyuluhan ini untuk merubah perilaku yang dikehendaki
sebagai hasil penyuluhan. Serta dapat menjembatani kesenjangan antara praktik
yang biasa dijalankan oleh para petani dengan pengetahuan dan teknologi yang
selalu berkembang menjadi kebutuhan para petani tersebut. Kegiatan penyuluhan
ini bertujuan menyampaikan informasi.
Penyuluh sebagai agen perubahan. Hal
ini tercermin dalam peranan utama seorang agen perubahan (Havelock, 1973),
yaitu:
1)   
Sebagai
katalisator, yang mengerakkan masyarakat untuk mau melakukan perubahan .
2)   
Sebagai
pemberi pemecahan persoalan.
3)   
Sebagai
pembantu proses perubahan.
4)   
Sebagai
penghubung sengan sumber-sumber yang diperlukan untuk memecahkan masalah yang
dihadapi.

















REFERENSI

Rasyid,
Anuar.2011.Komunikasi Penyuluhan.Pekanbaru:Pusat
Pengembangan    Pendidikan.
Rogers,
Everett.1976.Komunikasi dan Pembangunan.Jakarta:
LP3ES.
Booth,
Anne. dan Mc Cawley Peter.1981.Ekonomi
Orde Baru
.Malaysia:Oxford University.
Arifin,
Anwar.2011.Sistem Komunikasi Indonesia.Bandung:Simbiosa
Rekatama Media.
BIKN.2003.Sistem Komunikasi Indonesia Baru.Jawa
Tengah:Direktorat Publikasi Pemerintah Badan Informsi dan Komunikasi Nasional.
Hikam,
Muhammad.1999.Politik Kewarganegaraan.Jakarta:PT
Gelora Aksara Pratama.
Harun,
Rochajat. dan Ardianto Elvinaro.2012.Komunikasi
Pembangunan Perubahan Sosial.
Jakarta:PT Rajagrafindo Persada.
Vina
Dwi Laning.2008.Perubahan Sosial Masa
Reformasi
.Klaten:Cempaka Putih
Van
den Ban. Dan Hawkins.1999.Penyuluhan
Pertanian
.Yogyakarta:KANISIUS.
Nurudin.2007.Sistem Komunikasi Indonesia.Jakarta:PT
RajaGrafindo Persada.
Paramadinamulya.1999.Refleksi Agenda Reformasi.Yogyakarta:KANISIUS,





etika dan filsafat komunikasi



PERKEMBANGAN SEJARAH FILSAFAT
ISLAM DAN BARAT

Pengertian Filsafat
            Secara etimologi atau asal usul bahasa, kata filsafat berasal dari bahasa Yunani, “philosophia”, yang merupakan penggabungan dua kata yakni “philos” atau “philein” yang berarti “cinta”, “mencintai” atau “pecinta”, serta kata “sophia” yang berarti “kebijaksanaan”. Cinta artinya hasrat yang besar atau yang berkobar-kobar atau yang sungguh-sungguh. Kebijaksanaan, artinya kebenaran sejati atau kebenaran yang sesungguhnya.
            Sedangkan secara epistemologi (istilah), terdapat ratusan rumusan pengertian “filsafat”. Namun secara mendasar, filsafat adalah hasrat atau keinginan yang sungguh untuk menemukan kebenaran sejati.
            Mengutip The Liang Ge, Suhartono suparlan, Ph.D. (2007:45-46) mengatakan bahwa, defenisi filsafat dapat dipetakan menurut kronologi sejarah filsafat. Beberapa defenisi berdasarkan kronologi tersebut adalah:
1.      Plato (427-347 SM), mengatakan bahwa filsafat adalah mengkritik pendapat-pendapat yang berlaku. Jadi, kearifan atau pengetahuan intelektual itu diperoleh melalui suatu proses pmeriksaan secara kritis, diskusi, dan penjelasan
2.      Aristoteles (384-322 SM), menyatakan bahwa filsafat sebagai ilmu menyelidiki, tentang hal ada sebagai hal ada yang berbeda dengan bagian-bagiannya yang satu atau lainnya. Ilmu ini juga dianggap sebagai ilmu yang pertama dan terakhir, sebab secara logis disyaratkan adanya ilmu lain yang juga harus dikuasai, sehingga untuk memahaminya orang harus memahaminya orang harus menguasai ilmu-ilmu yang lain itu.
Sejak masa Aristophaneus dan selanjutnya seorang filosof dianggap sebagai filosof  dianggap sebagai seorang yang tidak mempunyai pekerjaan praktis serta tenggelam dalam pemikiran yang tidak berguna dan dalam khayalan belaka. Akan tetapi, sebagaimana telah dikatakan oleh Aristoteles, untuk membuktikannya bahwa filsafat itu tidak perlu, bahkan menipu, kita terpaksa harus berfilsafat juga. Orang-orang skeptis (peragu-ragu) termasuk golongan filosof pula seperti orang-orang idealis juga.
Sarjan-sarjana ‘ilmu pasti (matematis) pada akhirnya memerlukan juga kepada soal waktu dan ruang ‘ilmu fisika kepada soal benda dan tenaga: ‘ilmu kesenian kepada keindahan. Jadi filsafat kelihatannya merupakan suatu keharusan bagi kehidupan manusia.
Pengertian Filsafat pada Abad Modern
            Kant mendefenisikan “filsafat” sebagai pengetahuan yang memakai jalan (methode) pikiran semata-mata.
            Herbert (w. 1841 M) mendefenisikan filsafat sebagai suatu pekerjaan yang timbul dari pemikiran, dan ia membaginya kepada tiga bagian, yaitu; logika metafisika dan estetika (termasuk di dalamnya etika).
            Comte (w.1857 M) dan spencer (w.1903 M) memendang filsafat sebagai pemaduan (penggabungan) dan penggolongan bermacam-macam ‘lmu-ilmu dengan suatu pandangan kearah yang bersifat meteril semata-mata. (jelasnya terbatas kepada ilmu-ilmu alam).
            Ketika masih dipakai dalam pengertian yang lebih luas, maka filsafat meliputi logika, metafisika ontologi cosmologi, dan psychologi (‘ilmu jiwa). Ekonomi, politik, filsafat hukum dan sejarah, sering-sering termasuk dalam filsafat. Mekipun tidak termasuk dalam pengertian yang khusus.
            Untuk dapat memberikan gambaran sepintas lalu tentang perkembangan filsafat, maka filsafat ini akan diartikan sebagai suatu “ilmu yang  meliputi epitemologi, atau teori mengenal (theory of knowledge) metafisika dan ontologi. Tugas filsafat yang utama ialah menunjukkan pertaliannya ‘ilmu-‘ilmu dan bercabang-cabangnya sebagai bagian dari suatu keseluruhan (organic whole) yang membentuk suatu induk.
Sejarah Filsafat Islam
Sebelum Islam bangsa Arab belum mengenal perkataan ”filsafat” meskipun mereka mempunyai “hikmah” dan “hakim”. Al-Quran berulang kali menyebut kata bahwa hikmah itu datang dari Tuhan yang bernama “Al-Hakim”. Jadi hikmah merupakan mauhibah (kurnia) ilahi kepada orang yang dikehendaki-Nya, sehingga demikian ia mendapatkan petunjuk di dalam hidupnya. Lain halnya dengan filsafat yang menjelma dari karsa akal manusia. Akal itulah yang diberikan Tuhan, maka dengan akal itu manusia berusaha untuk membentuk suatu ilmu pengetahuan yang disebut ” Filsafat”.
            Perintis pertama kearah filsafat yang lebih jelas dan sistematis ialah kalangan pemikir-pemikir Yunani kuno, yang bahan-bahan pemikiran mereka menjelma dari kebudayaan-kebudayaan Babilonia, Kaldania, Mesir dan daerah-daerah Asia Barat yang telah lama mengenal kebudayaan. Dari itulah lahirnya filosof-filosof Thales, Aniximadros, Anaximenes, berlanjut dengan Socrates, Plato, dan Aristoteles, kemudian datang pula Plotinus membawa pembaharuan sistem filsafat orang-orang yang mendahuluinya.
            Aliran Muktazilah merupakan aliran yang tertua dalam sejarah perkembangan pemikiran islam. Meskipun aliran Muktazilah ini tidak dapat dimasukkan kedalam filsafat, namun aliran ini telah memainkan peranan yang penting dalam menggunakan filsafat sebagai alat mempertahankan kebenaran akidah islam dari gangguan-gangguan kebatilan, justru itu aliran ini merupakan aliran rasional dalam masalah akidah. Beginilah asal mula lahirnya  aliran Muktazilah, yang dapat kita katakan sebagai fase pertama pertama perkembangan Muktazilah.
            Ketika datang ke Timur Tengah pada abad IV SM, Aleksander Yang Agung membawa bukan hanya kaum militer tetapi kaum sipil. Tujuannya bukanlah hanya meluaskan daerah kekuasaannya keluar Macedonia, tetapi juga menanamkan kebudayaan Yunani di daerah-daerah yang dimasukinya. Untuk itu, ia adakan pembauran antara orang-orang Yunani yang dibawanya, dengan penduduk setempat. Dengan jalan demikian berkembanglah falsafah dan ilmu pengetahuan Yunani di Timur Tengah, dan timbullah pusat-pusat peradaban Yunani, seperti Iskandariah (dari nama Aleksander) di Messir, Antakia di Suria, Selopsia serta Jundisyapur di Irak, dan Baktra (sekarang Balkh) di Iran (lihat Harun Nasution:1992).
Perkembangan Filsafat Islam
            Munculnya aliran Muktazilah diawali dengan perbedaan pendapat anatara seorsng murid dengan gurunya dalam masalah mukmin yang melakukan dosa besar. Sang murid dengan gurunya dalam masalah mukmn yang melakukan dosa besar. Sang murid yang bernama Washil bin Atha berpendapat, bahwa orang tersebut bukan mukmin lagi, namun pua jatuh menjadi kafir, tetapi disebut “fasik”. Sedangkan gurunya Hasan Al-Bashari masih tetap menganggap orang itu adalah mukmin, hanya saja ia telah jatuh ke dalam dosa (‘ashy).
            Perbedaan pendapat tersebut terus membawa ketegangan, sehingga Washil memisahkan dirinya dari Majelis Pengajiasn Al-Hasan di suatu sudut dalam Jami’ Bashrah. Pengajian ini semakin lama semakin meluas juga, sehingga Washil pun dapat mengembangkan fahamnya kepada murid-muridnya, yang selanjutnya menjadi satu aliran tersendiri dalam agama. Dan inilah yang disebut fase pertama.
            Selanjutnya, pada fase kedua tatkala masuknya filsafat Yunani kedalam Islam di masa Abbasiyah, maka kaum Muktazilah turut ambil bagian dalam mendalai filsafat. Dimasa inilah munculnya tokoh-tokoh terkemuka aliran ini, yang antara lain ialah Abu Al-Huazail Al-Allaf (135—226 H./753 —840 M.) Ibraim An-Nazzam (wafat 231 H./845 M.), Muammar As-Sulmy (wafat 220 H./835 M.), Basyr Al-Muktamir (wafat 26 H.840 M.) dan Al-Jahizh (wafat 225H./808 M.). Dengan bersenjatakan filsafat tokoh-tokoh ini menggali dan mempertahankan akidah yang mereka anut.
            Karena mereka sudah masuk medan filsafat, maka dengan sendirinya mereka meletakkan akal sebagai bahan penimbang yang paling utama. Segala persoalan dipecahkan dengan akal, baru sesudahnya dipertalikan dengan nakal. Maka diantara aliran-aliran yang ada dalam ilmu kalam aliran Muktazilahlah yang paling dominan mempergunakan akal(rasio).
            Dalam sejarah pemikiran Islam teologi rasional yang dipelopori kaum Muktazilah, ciri-ciri dari teologi rasional ini ialah:
a)      Kedudukan akal tinggi di dalamnya, sehingga mereka tidak mau tunduk kepada arti harfiah dari teks wahyu yang tidak sejalan dengan pemikiran filosofis dan ilmiah. Mereka tinggalkan arti harfiah teks dan ambil arti tersurat dari nash wahyu dan mengambil arti tersiratnya. Mereka dikenal banyak memakai tawil dalam memahami wahyu.
b)      Akal menunjukkan kekuatan manusia, maka akal yang kuat menggambarkan manusia yang kuat yaitu manusia dewasa. Manusia dewasa, berlainan dengan anak kecil, mampu berdiri sendiri, mempunyai kebebasan dalam kemauan serta perbuatan, dan mampu berpikir secara mendalam. Karena itu aliran manganut paham Qadariah, yang dibarat dikenal dengan istilah free-will and free-act, yang membawa kepada konsep manusia yang penuh dinamika, baik dalam perbuatan maupun pemikiran.
Pemikiran filosofis mereka membawa kepada penekanan konsep Tuhan Yang Maha adil. Maka, keadilan Tuhanlah yang menjadi titik tolak.
            Setelah mereka berkecimpung dengan filsafat, akhirnya permasalahan tampak semakin meluas mencakup masalah-masalah ketuhanan, qadar dan masalah nilai baik dan buruk, yang semuanya itu dibahas dengan akal secara filsafat.
Sejarah Filsafat Barat
            Banyak sekali karya filsafat yang muncul sesudah berakhirnya aliran Hegel. Namun keadaannya sama saja, yaitu bahwa karya-karya tersebut tidak berisi suatu semangat mengadakan pemikiran/renungan murni semata-mata (enthusias inspeculation for its new sake), melainkan lebih suka untuk melihat apa yang telah difikirkan oleh orang lain, atau dengan perkataan lain, lebih suka memasuki sejarah fisafat.
            Diantara filosof-filosof seperti Reinold dan Chalybus lebih terkenal sebagai ahli sejarah filsafat, daripada sebagai pengurai (Expositor) suatu sistem filsafat, sedang buku karangan Fren delenberd, yaitu “History of the doctrine of categories” di Jerman lebih banyak dibaca daripada buku lain, yaitu “logical investigation.”
            Sebenarnya, sebagaimana yang dicatat oleh Erland, kuatnya unsur sejarah ini, dapat dilihat, meskipun dalam pemikiran-pemikiran itu sendiri, terutama dalam bentuk diskusi yang kritis yang terkandung dalam mukadimah sejarah. Satu-satunya pengecualian kelihatannya hanya Lotze dan Weise (1801-1866). Untuk karya-karya terkenal seperti, Orgamun of the philosophical idea, dari Hellebrand, dan idea of the godhead dari Wirth, sebenarnya merupakan ihtisar sejarah filsafat.
            Dalam hubungan ini, Erdman mengemukakan bahwa Ulrchi (1806-1884) telah banyak menerima pujian karena kritik-kritiknya terhadap filsafat Hegel tetapi dalam hal berhubungan dengan teori tentang pemisahan kegiatan, kelihatannya ia berdiri sendiri, meskipun demikian, ia tidak berpendapat bahwa pilihan yang jelas merupakan suatu tanda kerapuhan filsafat (kelemahan filsafat-philosophical decreptude) dan ia melihat suatu perseuaian yang dapat dipastikan pengaruhnya terhadap pembahasan hukum dari tulisan-tulisan historis yang sangat bernilai dari savignya.
Perkembangan Filsafat Barat         
            Dalam buku ‘Euthydemus’ plato menerangkan bahwa filsafat hanya memperhatikan soal-soal kerohanian dan penuh ideal dan sama dengan pengetahuan, dan kadang-kadang disamakan dengan pengetahuan tentang wujud (ontology).
            Ketika otak-otak besar di dunia masih berkemampuan luar (pre eminent) bukan saja dalam bidang satu atau dua cabang ‘ilmu, tetapi juga dalam kebanyakan cabang “ilmu, tetapi juga dalam kebanyakan cabang ‘ilmu, maka orang filosof dapat membentuk sistem filsafatnya dari pengetahuan dan pengalamannya sendiri.
            Tokoh-tokoh scholastik dan neoschlostik  mendefenisikan filsafat sebagai pengetahuan tentang yang ada melalui semua sebab-sebab yang tertinggi, artinya yang paling universil dan paling tidak tergantung kepada yang lain (the knowledge of things through theirs highest (i.e.), ost universal and independent causes).
            Kemajuan yang sangat bernilai pada masa modern ialah Phychology (‘ilmu jiwa), yang pada umumnya sekarang dipelajari sebagai ilmu yang terpisah dari filsafat yang diinginkan oleh sementara orang, layaknya diperlukan sebagai ‘ilmu alam adanya.
            Logika, etika dan estetika, meskipun merupakan unsur pembentuk filsafat dan menjadi bagiannya namun berbeda dengan bagian-bagian filsafat yang lain, karena bagian-bagian tersebut adalah pengetahuan yang bersifat normatif yakni berdasarkan norma-norma atau sandaran (standard) tertentu, yaitu: kebenaran untuk logika, keutamaan untuk etika dan keindahan untuk estetika.
            Filsafat diartikan sebagai suatu ‘ilmu yang meliputi epistemologi, atau teori mengenal (theory of knowledge) metafisika dan ontologi. Tugas filsafat yang utama ialah menunjukkan pertaliannya ‘ilmu-‘ilmu dan bercabang-cabangnya sebagai bagian dari suatu keseluruhan (organic whole) yang membentuk suatu induk.
a.       Zaman Kuno
Filsafat barat kuno dimulai dari filsafat pra-sokrates di Yunani. Sejarah filsafat Barat mulai Milete, di  Asia kecil, sekitar tahun 600 SM. Pada waktu itu, Milete merupakan kota yang penting, dimana banyak jalur perdagangan bertemu di Mesir, Italia, Yunani, dan Asia. Milete juga menjadi suatu pusat intelektual (pembahasan lebih lanjut tentang Filsafat Barat,  lihat Darji Darmodiharjo dan shidarta,(2004:58-78).
Pemikir-pemikir besar di Milete lebih-lebih menyibukkan diri dengan filsafat  alam. Mereka mancari suatu unsur induk (arche) yang dapat dianggap sebagai asal segala sesuatu. Menurut Thales (±600 SM) airlah yang merupakan unsur induk ini. Menurut Anaximander (±610-540 SM), segala sesuatu berasal dari “yang tak terbatas”, dan menurut Anaximenes (±585-525 SM) udaralah yang merupakan unsur induk segala sesuatu. Phytagoras (±500 SM) yang mengajar di Italia Selatan, adalah orang pertama yang menamai diri “filsuf.

b.      Puncak Zaman Klasik: Sokrates, Plato, dan Aristoteles
Puncak filsafat Yunani dicapai pada Sokrates, Plato, dan Aristoteles. Sokrates (± 470-00 SM), guru Plato, mengajar bahwa akal budi harus menjadi norma terpenting untuk tindakan kita. Plato (428-348), menggambarkan Sokrates sebagai seorang alim yang mengajar bagaimana manusia dapat menjadi berbahagia berkat pengetahuan tentang apa yang baik.
Seorang filosof yang sangat berhasil menangkis alasan-alasan (fikiran-fikiran) golongan sofist dan mengangkat kembali nama baik filsafat ialah socrates. Cara hidup dan filsafatnya merupakan rangkaian yang tidak dapat dipisah-pisahkan, sabagaimana yang terlihat dalam buku “Dialogus dari Plato.
Diantara ajaran Sokrates adalah metode dialektika, yakni metode pencarian kebenaran secara ilmiah melalui bercakap-cakap atau berdialog. Sokrates, misalnya selalu bertanya-tanya “apakah itu salah atau tidak salah, apakah itu adil atau tidak adil, apakah itu pemberani ataukah tidak pemberani, dan seterusnya”. Sokrates menganggap jawaban pertama sebagai hipotesis dan dengan pertanyaan-pertanyaan berikutnya ia menarik segala konsekuensi yang dapat disimpulkan dari jawaban tersebut. Jalan pikirannya di tandaskan kepada pengetahuan (kesadaran/knowledge).” Mengenai diri sendiri “, merupakan kulminasi (puncak) seluruh filsafatnya dan merupakan satu-satunya usaha manusia yang berharga Dia tidak mendirikan sesuatu aliran filsafat, meskipun ia telah mendirikan titik tolak kepada beberapa lapangan pikiran tertentu.
Aliran socrates kecil aliran socrates yang tidak lengkap, seperti yang biasa disebut-sebut, ada tiga yaitu:
1.      Aliran Megari
Pendiri aliran Megari ialah Euclid dan Megara, dan sistem pemikirannya merupakan panduan antara Etika Socrates dengan ajarannya ‘Wujud Esa’ (one being)  dari permenides
2.      Aliran Cyrenaic
Pendiri aliran Cyrenaic ialah Aristippus, merupakan penunjuk jalan (faro runner) bagi orang Epicure yang mengatakan bahwa hanya kesenangan semata-mata yang baik, meskipun bukan kesenangan yang harus diikuti dengan pendirian.
3.      Aliran Cynic
Pendiri aliran Cynic ialah Antisthenes, yang menyatakan bahwa keutamaan adalah satu-satunya perkara yang berharga dan yang menjadi tujuan hidup. Yang dimaksud keutamaan disini ialah sikap zuhud dan meninggalkan dunia. Diogenes dari sinope merupakan contoh terbaik dari filosof-filosof dari aliran Cynic.
Filsafat Plato merupakan perdamaian antara ajaran Parmenides dan ajaran Herakleitos. Dalam dunia ide-ide segala sesuatu abadi, dalam dunia yang kelihatan, dunia kita yang tidak sempurna, segala sesuatu mengalami perubahan. Filsafat Plato, yang lebih bersifat khayal dari pada suatu sistem pengetahuan, sangat dalam dan sangat luas dan meliputi logika, epistemologi, antropologi, teologi, etika , politik, ontologi, filsafat alam dan estetika. Plato mengutarakan perhatiannya kepada unsur (zat) mutlak dan universal untuk pengalaman. Yang mencerminkan paduan antara fikiran Socrates dan fikiran-fikiran lain yang sebelumnya.
Kita berhutang budi kepada Plato karena kedua kebenaran yang dikemukakannya yaitu:
1.      Agar pengetahuan manusia bisa mencapai kebenaran, maka fikirkanlah yang harus menjadi titik pangkalnya.
2.      Semua pemikiran manusia bekerja dengan memakai konsep-konsep yang universal.
3.      Ajarannya tentang ide-ide universal mempunyai pengaruh yang besar dalam sejarah filsafat, dan pada masa sekarang merupakan faktor yang penting pada tiap-tiap pemikiran filsafat.
Aristoteles (384-322), guru Iskandar Agung, adalah murid Plato. Ia adlah pendiri Empirisme adari dunia purba Plato menempatkan filsafat dalam suatu perlawanan yang baik sekali terhadap actuality (wujud nyata), sedang konsepsi-konsepsi tentang perkara-perkara yang lebih realistis ditambahkan oleh AristoTetapi dalam banyak hal ia tidak setuju dengan plato. Ide-ide menurut Aristoteles tidak terletak dalam suatu “surga” diatas dunia ini, melainkan di dalam benda-benda sendiri. Setiap benda terdiri dari dua unsur yang tak terpisahkan, yaitu materi (hylè) dan bentuk(morfè).
Bentuk-bentuk memberi kenyataan kepada materi dan sekaligus merupakan tujuan dari materi. Filsafat Aristoteles sangat sistematis. Sumbangannya kepada perkembangan ilmu pengetahuan besar sekali, seperti penemuannya tentang metode induksi, yakni proses menyimpulkan dari pengetahuan yang bersifat khusus ke pengetahuan yang  bersifat umum. Tulisan-tulisan Aristoteles meliputi bidang logika, etika, politik, metafisika, psikologi, dan ilmu alam serta buku-bukunya dipakai sebagai suatu standar dalam berbagai-bagai bidang filsafat.
a.       Zaman Patristik
Patristik (dari kata Latin “ Patres”, “Bapa-bapa Gereja”). Ajaran falsafi-teologis dari Bapa-bapa Gereja menunjukkan pengaruh Plotinos. Mereka berusaha untuk memperlihatkan bahwa iman sesuai dengan pikiran-pikiran paling dalam dari manusia. Mereka berhasil membela ajaran Kristiani terhadap tuduhan dari pemikir-pemikir  kafir. Tulisan-tulisan Bapa-bapa Gereja merupakan suatu sumber yang kaya dan luas yang sekarang masih tetap memberi inspirasi baru.
b.      Zaman Skolastik
Sekitar tahun 1000 M peranan Plotinos alih oleh Aristoteles. Aristoteles menjadi terkenal kembali melalui beberapa filsuf Islam dan Yahudi, terutama melalui Avicena (Ibn Sina, 980-1037), Averroes(Ibn Rushd, 1126-1198), dan Maimonides (1135-1204). Pengaruh Aistoteles lama-kelamaan begitu besar sehingga ia disebut “Sang Filsuf”, sedangkan Averroes disebut “Sang Komentator”. Pertemuan pemikiran Aristoteles dengan iman Kristiani menghasilkan banyak filsuf penting. Mereka sebagian besar berasal dari kedua ordo baru yang lahir dalam Abad Pertengahan, yaitu para Dominikan dan Fransiskan.
Filsafat mereka disebut Skolastik (dari kata Latin, “Scholasticus”, “guru”). Karena, dalam periode ini filsafat diajarkan dalam sekolah-sekolah biara dan universitas-universitas menurut suatu kurikulum yang tetap dan yang bersifat internasional. Tema-tema pokok dari ajarkan mereka itu: hubungan iman-akal budi, adanya dan hakikat Tuhan, antropologi, etika dan politik. Ajaran Skolastik dengan sangat bagus diungkapkan dalam puisi Dante Alighieri (1265-1321).
c.       Zaman Modern
·         Zaman Renaissance
Jembatan antara Abad Pertengahan dan Zaman Modern, periode antara sekitar 1400 M dan 1600 M, disebut “renaissance” (zaman  “kelahiran kembali”). Dalam zaman renaissance, kebudayaan klasik dihidupkan kembali. Kesusateraan, seni, dan filsafat mencapai inspirasi mereka dalam warisan  Yunani-Romawi. Filsuf-filsuf terpenting dari rainassance itu adalah adalah Nicollo Macchiavelli (1469-1527), Thomas Hobbes (1588-1679), Thomas More (1478-1535), dan Francis Bacon (1561-1626).
Pembaharuan terpenting yang kelihatan dalam filsafat renaissance itu “antroposentris”-nya. Pusat perhatian pemikiran itu tidak lagi kosmos, seperti dalam zaman kuno, atau Tuhan, seperti dalam Abad Pertengahan, melainkan manusia. Mulai sekarang manusialah yang dianggap sebagai titik fokus dari kenyataan.
·         Zaman Pencerahan
Abad kedelapan belas memperlihatkan perkembangan baru lagi. Setelah reformasi, setelah renaissance dan setelah rasionalisme dari zaman barok, manusia sekarang dianggap “dewasa”. Periode ini dalam sejarah Barat disebut “zaman pencerahan” atau “pencerahan “ (dala bahasa Inggris, “Enlightenment” dam bahasa Jerman , “Aufklarung”). Filsuf-filsuf besar dari zaman ini di Inggris “empirisus-empirisus” seperti John Locke (1632-1704), George Berkeley (1684-1753), dan David Hume (1711-1776). Di perancis Jean Jacque Rousseau (1712-1778) dan di Jerman Immanuel Kant (1724-1804), yang menciptakan suatu sintesis dari rasionalisme dan empirisme dan yang dianggap sebagai filsuf terpenting dari zaman modern.
·         Zaman Romantik
Filsuf-filsuf besar dari romantik lebih-lebih berasal dari Jerman, Yaitu J. Fichte (1762-1814), F. Schelling (1775-1854) , dan G. W. F. Hegel (1770-1831). Aliran yang diwakili oleh ketiga filsuf ini disebut “idealisme”. Dengan idealisme di sini imaksudkan bahwa mereka memprioritaskan ide-ide, berlawanan dengan materalisme yang memproritakna semua meterial. Yang terpenting dari para idealis kedua puluh harus dianggap sebagai lanjutan dari filsafat Hegel, atau justru sebagai  reaksi terhadap filsafat Hegel.
·         Masa Kini
Dalam abad ketujuh belas dan kedelapan belas sejaah filsafat Barat memperlihatkan aliran-aliran yang besar, yang mempertahankan diri lama dalam wilayah-wilyah yang luas, yaitu rasionalisme, empirisme, dan idealisme. Dibandingkan dengan itu, filsafat barat dalam abad kesembiln belas dan kedua puluh kelihatan terpcah-pecah. Macam-macam aliran baru muncul, dan aliran-aliran ini sering terikat pada hanya satu negara atau satu lingkungan bahasa.