Jumat, 30 Januari 2015

etika dan filsafat komunikasi



PERKEMBANGAN SEJARAH FILSAFAT
ISLAM DAN BARAT

Pengertian Filsafat
            Secara etimologi atau asal usul bahasa, kata filsafat berasal dari bahasa Yunani, “philosophia”, yang merupakan penggabungan dua kata yakni “philos” atau “philein” yang berarti “cinta”, “mencintai” atau “pecinta”, serta kata “sophia” yang berarti “kebijaksanaan”. Cinta artinya hasrat yang besar atau yang berkobar-kobar atau yang sungguh-sungguh. Kebijaksanaan, artinya kebenaran sejati atau kebenaran yang sesungguhnya.
            Sedangkan secara epistemologi (istilah), terdapat ratusan rumusan pengertian “filsafat”. Namun secara mendasar, filsafat adalah hasrat atau keinginan yang sungguh untuk menemukan kebenaran sejati.
            Mengutip The Liang Ge, Suhartono suparlan, Ph.D. (2007:45-46) mengatakan bahwa, defenisi filsafat dapat dipetakan menurut kronologi sejarah filsafat. Beberapa defenisi berdasarkan kronologi tersebut adalah:
1.      Plato (427-347 SM), mengatakan bahwa filsafat adalah mengkritik pendapat-pendapat yang berlaku. Jadi, kearifan atau pengetahuan intelektual itu diperoleh melalui suatu proses pmeriksaan secara kritis, diskusi, dan penjelasan
2.      Aristoteles (384-322 SM), menyatakan bahwa filsafat sebagai ilmu menyelidiki, tentang hal ada sebagai hal ada yang berbeda dengan bagian-bagiannya yang satu atau lainnya. Ilmu ini juga dianggap sebagai ilmu yang pertama dan terakhir, sebab secara logis disyaratkan adanya ilmu lain yang juga harus dikuasai, sehingga untuk memahaminya orang harus memahaminya orang harus menguasai ilmu-ilmu yang lain itu.
Sejak masa Aristophaneus dan selanjutnya seorang filosof dianggap sebagai filosof  dianggap sebagai seorang yang tidak mempunyai pekerjaan praktis serta tenggelam dalam pemikiran yang tidak berguna dan dalam khayalan belaka. Akan tetapi, sebagaimana telah dikatakan oleh Aristoteles, untuk membuktikannya bahwa filsafat itu tidak perlu, bahkan menipu, kita terpaksa harus berfilsafat juga. Orang-orang skeptis (peragu-ragu) termasuk golongan filosof pula seperti orang-orang idealis juga.
Sarjan-sarjana ‘ilmu pasti (matematis) pada akhirnya memerlukan juga kepada soal waktu dan ruang ‘ilmu fisika kepada soal benda dan tenaga: ‘ilmu kesenian kepada keindahan. Jadi filsafat kelihatannya merupakan suatu keharusan bagi kehidupan manusia.
Pengertian Filsafat pada Abad Modern
            Kant mendefenisikan “filsafat” sebagai pengetahuan yang memakai jalan (methode) pikiran semata-mata.
            Herbert (w. 1841 M) mendefenisikan filsafat sebagai suatu pekerjaan yang timbul dari pemikiran, dan ia membaginya kepada tiga bagian, yaitu; logika metafisika dan estetika (termasuk di dalamnya etika).
            Comte (w.1857 M) dan spencer (w.1903 M) memendang filsafat sebagai pemaduan (penggabungan) dan penggolongan bermacam-macam ‘lmu-ilmu dengan suatu pandangan kearah yang bersifat meteril semata-mata. (jelasnya terbatas kepada ilmu-ilmu alam).
            Ketika masih dipakai dalam pengertian yang lebih luas, maka filsafat meliputi logika, metafisika ontologi cosmologi, dan psychologi (‘ilmu jiwa). Ekonomi, politik, filsafat hukum dan sejarah, sering-sering termasuk dalam filsafat. Mekipun tidak termasuk dalam pengertian yang khusus.
            Untuk dapat memberikan gambaran sepintas lalu tentang perkembangan filsafat, maka filsafat ini akan diartikan sebagai suatu “ilmu yang  meliputi epitemologi, atau teori mengenal (theory of knowledge) metafisika dan ontologi. Tugas filsafat yang utama ialah menunjukkan pertaliannya ‘ilmu-‘ilmu dan bercabang-cabangnya sebagai bagian dari suatu keseluruhan (organic whole) yang membentuk suatu induk.
Sejarah Filsafat Islam
Sebelum Islam bangsa Arab belum mengenal perkataan ”filsafat” meskipun mereka mempunyai “hikmah” dan “hakim”. Al-Quran berulang kali menyebut kata bahwa hikmah itu datang dari Tuhan yang bernama “Al-Hakim”. Jadi hikmah merupakan mauhibah (kurnia) ilahi kepada orang yang dikehendaki-Nya, sehingga demikian ia mendapatkan petunjuk di dalam hidupnya. Lain halnya dengan filsafat yang menjelma dari karsa akal manusia. Akal itulah yang diberikan Tuhan, maka dengan akal itu manusia berusaha untuk membentuk suatu ilmu pengetahuan yang disebut ” Filsafat”.
            Perintis pertama kearah filsafat yang lebih jelas dan sistematis ialah kalangan pemikir-pemikir Yunani kuno, yang bahan-bahan pemikiran mereka menjelma dari kebudayaan-kebudayaan Babilonia, Kaldania, Mesir dan daerah-daerah Asia Barat yang telah lama mengenal kebudayaan. Dari itulah lahirnya filosof-filosof Thales, Aniximadros, Anaximenes, berlanjut dengan Socrates, Plato, dan Aristoteles, kemudian datang pula Plotinus membawa pembaharuan sistem filsafat orang-orang yang mendahuluinya.
            Aliran Muktazilah merupakan aliran yang tertua dalam sejarah perkembangan pemikiran islam. Meskipun aliran Muktazilah ini tidak dapat dimasukkan kedalam filsafat, namun aliran ini telah memainkan peranan yang penting dalam menggunakan filsafat sebagai alat mempertahankan kebenaran akidah islam dari gangguan-gangguan kebatilan, justru itu aliran ini merupakan aliran rasional dalam masalah akidah. Beginilah asal mula lahirnya  aliran Muktazilah, yang dapat kita katakan sebagai fase pertama pertama perkembangan Muktazilah.
            Ketika datang ke Timur Tengah pada abad IV SM, Aleksander Yang Agung membawa bukan hanya kaum militer tetapi kaum sipil. Tujuannya bukanlah hanya meluaskan daerah kekuasaannya keluar Macedonia, tetapi juga menanamkan kebudayaan Yunani di daerah-daerah yang dimasukinya. Untuk itu, ia adakan pembauran antara orang-orang Yunani yang dibawanya, dengan penduduk setempat. Dengan jalan demikian berkembanglah falsafah dan ilmu pengetahuan Yunani di Timur Tengah, dan timbullah pusat-pusat peradaban Yunani, seperti Iskandariah (dari nama Aleksander) di Messir, Antakia di Suria, Selopsia serta Jundisyapur di Irak, dan Baktra (sekarang Balkh) di Iran (lihat Harun Nasution:1992).
Perkembangan Filsafat Islam
            Munculnya aliran Muktazilah diawali dengan perbedaan pendapat anatara seorsng murid dengan gurunya dalam masalah mukmin yang melakukan dosa besar. Sang murid dengan gurunya dalam masalah mukmn yang melakukan dosa besar. Sang murid yang bernama Washil bin Atha berpendapat, bahwa orang tersebut bukan mukmin lagi, namun pua jatuh menjadi kafir, tetapi disebut “fasik”. Sedangkan gurunya Hasan Al-Bashari masih tetap menganggap orang itu adalah mukmin, hanya saja ia telah jatuh ke dalam dosa (‘ashy).
            Perbedaan pendapat tersebut terus membawa ketegangan, sehingga Washil memisahkan dirinya dari Majelis Pengajiasn Al-Hasan di suatu sudut dalam Jami’ Bashrah. Pengajian ini semakin lama semakin meluas juga, sehingga Washil pun dapat mengembangkan fahamnya kepada murid-muridnya, yang selanjutnya menjadi satu aliran tersendiri dalam agama. Dan inilah yang disebut fase pertama.
            Selanjutnya, pada fase kedua tatkala masuknya filsafat Yunani kedalam Islam di masa Abbasiyah, maka kaum Muktazilah turut ambil bagian dalam mendalai filsafat. Dimasa inilah munculnya tokoh-tokoh terkemuka aliran ini, yang antara lain ialah Abu Al-Huazail Al-Allaf (135—226 H./753 —840 M.) Ibraim An-Nazzam (wafat 231 H./845 M.), Muammar As-Sulmy (wafat 220 H./835 M.), Basyr Al-Muktamir (wafat 26 H.840 M.) dan Al-Jahizh (wafat 225H./808 M.). Dengan bersenjatakan filsafat tokoh-tokoh ini menggali dan mempertahankan akidah yang mereka anut.
            Karena mereka sudah masuk medan filsafat, maka dengan sendirinya mereka meletakkan akal sebagai bahan penimbang yang paling utama. Segala persoalan dipecahkan dengan akal, baru sesudahnya dipertalikan dengan nakal. Maka diantara aliran-aliran yang ada dalam ilmu kalam aliran Muktazilahlah yang paling dominan mempergunakan akal(rasio).
            Dalam sejarah pemikiran Islam teologi rasional yang dipelopori kaum Muktazilah, ciri-ciri dari teologi rasional ini ialah:
a)      Kedudukan akal tinggi di dalamnya, sehingga mereka tidak mau tunduk kepada arti harfiah dari teks wahyu yang tidak sejalan dengan pemikiran filosofis dan ilmiah. Mereka tinggalkan arti harfiah teks dan ambil arti tersurat dari nash wahyu dan mengambil arti tersiratnya. Mereka dikenal banyak memakai tawil dalam memahami wahyu.
b)      Akal menunjukkan kekuatan manusia, maka akal yang kuat menggambarkan manusia yang kuat yaitu manusia dewasa. Manusia dewasa, berlainan dengan anak kecil, mampu berdiri sendiri, mempunyai kebebasan dalam kemauan serta perbuatan, dan mampu berpikir secara mendalam. Karena itu aliran manganut paham Qadariah, yang dibarat dikenal dengan istilah free-will and free-act, yang membawa kepada konsep manusia yang penuh dinamika, baik dalam perbuatan maupun pemikiran.
Pemikiran filosofis mereka membawa kepada penekanan konsep Tuhan Yang Maha adil. Maka, keadilan Tuhanlah yang menjadi titik tolak.
            Setelah mereka berkecimpung dengan filsafat, akhirnya permasalahan tampak semakin meluas mencakup masalah-masalah ketuhanan, qadar dan masalah nilai baik dan buruk, yang semuanya itu dibahas dengan akal secara filsafat.
Sejarah Filsafat Barat
            Banyak sekali karya filsafat yang muncul sesudah berakhirnya aliran Hegel. Namun keadaannya sama saja, yaitu bahwa karya-karya tersebut tidak berisi suatu semangat mengadakan pemikiran/renungan murni semata-mata (enthusias inspeculation for its new sake), melainkan lebih suka untuk melihat apa yang telah difikirkan oleh orang lain, atau dengan perkataan lain, lebih suka memasuki sejarah fisafat.
            Diantara filosof-filosof seperti Reinold dan Chalybus lebih terkenal sebagai ahli sejarah filsafat, daripada sebagai pengurai (Expositor) suatu sistem filsafat, sedang buku karangan Fren delenberd, yaitu “History of the doctrine of categories” di Jerman lebih banyak dibaca daripada buku lain, yaitu “logical investigation.”
            Sebenarnya, sebagaimana yang dicatat oleh Erland, kuatnya unsur sejarah ini, dapat dilihat, meskipun dalam pemikiran-pemikiran itu sendiri, terutama dalam bentuk diskusi yang kritis yang terkandung dalam mukadimah sejarah. Satu-satunya pengecualian kelihatannya hanya Lotze dan Weise (1801-1866). Untuk karya-karya terkenal seperti, Orgamun of the philosophical idea, dari Hellebrand, dan idea of the godhead dari Wirth, sebenarnya merupakan ihtisar sejarah filsafat.
            Dalam hubungan ini, Erdman mengemukakan bahwa Ulrchi (1806-1884) telah banyak menerima pujian karena kritik-kritiknya terhadap filsafat Hegel tetapi dalam hal berhubungan dengan teori tentang pemisahan kegiatan, kelihatannya ia berdiri sendiri, meskipun demikian, ia tidak berpendapat bahwa pilihan yang jelas merupakan suatu tanda kerapuhan filsafat (kelemahan filsafat-philosophical decreptude) dan ia melihat suatu perseuaian yang dapat dipastikan pengaruhnya terhadap pembahasan hukum dari tulisan-tulisan historis yang sangat bernilai dari savignya.
Perkembangan Filsafat Barat         
            Dalam buku ‘Euthydemus’ plato menerangkan bahwa filsafat hanya memperhatikan soal-soal kerohanian dan penuh ideal dan sama dengan pengetahuan, dan kadang-kadang disamakan dengan pengetahuan tentang wujud (ontology).
            Ketika otak-otak besar di dunia masih berkemampuan luar (pre eminent) bukan saja dalam bidang satu atau dua cabang ‘ilmu, tetapi juga dalam kebanyakan cabang “ilmu, tetapi juga dalam kebanyakan cabang ‘ilmu, maka orang filosof dapat membentuk sistem filsafatnya dari pengetahuan dan pengalamannya sendiri.
            Tokoh-tokoh scholastik dan neoschlostik  mendefenisikan filsafat sebagai pengetahuan tentang yang ada melalui semua sebab-sebab yang tertinggi, artinya yang paling universil dan paling tidak tergantung kepada yang lain (the knowledge of things through theirs highest (i.e.), ost universal and independent causes).
            Kemajuan yang sangat bernilai pada masa modern ialah Phychology (‘ilmu jiwa), yang pada umumnya sekarang dipelajari sebagai ilmu yang terpisah dari filsafat yang diinginkan oleh sementara orang, layaknya diperlukan sebagai ‘ilmu alam adanya.
            Logika, etika dan estetika, meskipun merupakan unsur pembentuk filsafat dan menjadi bagiannya namun berbeda dengan bagian-bagian filsafat yang lain, karena bagian-bagian tersebut adalah pengetahuan yang bersifat normatif yakni berdasarkan norma-norma atau sandaran (standard) tertentu, yaitu: kebenaran untuk logika, keutamaan untuk etika dan keindahan untuk estetika.
            Filsafat diartikan sebagai suatu ‘ilmu yang meliputi epistemologi, atau teori mengenal (theory of knowledge) metafisika dan ontologi. Tugas filsafat yang utama ialah menunjukkan pertaliannya ‘ilmu-‘ilmu dan bercabang-cabangnya sebagai bagian dari suatu keseluruhan (organic whole) yang membentuk suatu induk.
a.       Zaman Kuno
Filsafat barat kuno dimulai dari filsafat pra-sokrates di Yunani. Sejarah filsafat Barat mulai Milete, di  Asia kecil, sekitar tahun 600 SM. Pada waktu itu, Milete merupakan kota yang penting, dimana banyak jalur perdagangan bertemu di Mesir, Italia, Yunani, dan Asia. Milete juga menjadi suatu pusat intelektual (pembahasan lebih lanjut tentang Filsafat Barat,  lihat Darji Darmodiharjo dan shidarta,(2004:58-78).
Pemikir-pemikir besar di Milete lebih-lebih menyibukkan diri dengan filsafat  alam. Mereka mancari suatu unsur induk (arche) yang dapat dianggap sebagai asal segala sesuatu. Menurut Thales (±600 SM) airlah yang merupakan unsur induk ini. Menurut Anaximander (±610-540 SM), segala sesuatu berasal dari “yang tak terbatas”, dan menurut Anaximenes (±585-525 SM) udaralah yang merupakan unsur induk segala sesuatu. Phytagoras (±500 SM) yang mengajar di Italia Selatan, adalah orang pertama yang menamai diri “filsuf.

b.      Puncak Zaman Klasik: Sokrates, Plato, dan Aristoteles
Puncak filsafat Yunani dicapai pada Sokrates, Plato, dan Aristoteles. Sokrates (± 470-00 SM), guru Plato, mengajar bahwa akal budi harus menjadi norma terpenting untuk tindakan kita. Plato (428-348), menggambarkan Sokrates sebagai seorang alim yang mengajar bagaimana manusia dapat menjadi berbahagia berkat pengetahuan tentang apa yang baik.
Seorang filosof yang sangat berhasil menangkis alasan-alasan (fikiran-fikiran) golongan sofist dan mengangkat kembali nama baik filsafat ialah socrates. Cara hidup dan filsafatnya merupakan rangkaian yang tidak dapat dipisah-pisahkan, sabagaimana yang terlihat dalam buku “Dialogus dari Plato.
Diantara ajaran Sokrates adalah metode dialektika, yakni metode pencarian kebenaran secara ilmiah melalui bercakap-cakap atau berdialog. Sokrates, misalnya selalu bertanya-tanya “apakah itu salah atau tidak salah, apakah itu adil atau tidak adil, apakah itu pemberani ataukah tidak pemberani, dan seterusnya”. Sokrates menganggap jawaban pertama sebagai hipotesis dan dengan pertanyaan-pertanyaan berikutnya ia menarik segala konsekuensi yang dapat disimpulkan dari jawaban tersebut. Jalan pikirannya di tandaskan kepada pengetahuan (kesadaran/knowledge).” Mengenai diri sendiri “, merupakan kulminasi (puncak) seluruh filsafatnya dan merupakan satu-satunya usaha manusia yang berharga Dia tidak mendirikan sesuatu aliran filsafat, meskipun ia telah mendirikan titik tolak kepada beberapa lapangan pikiran tertentu.
Aliran socrates kecil aliran socrates yang tidak lengkap, seperti yang biasa disebut-sebut, ada tiga yaitu:
1.      Aliran Megari
Pendiri aliran Megari ialah Euclid dan Megara, dan sistem pemikirannya merupakan panduan antara Etika Socrates dengan ajarannya ‘Wujud Esa’ (one being)  dari permenides
2.      Aliran Cyrenaic
Pendiri aliran Cyrenaic ialah Aristippus, merupakan penunjuk jalan (faro runner) bagi orang Epicure yang mengatakan bahwa hanya kesenangan semata-mata yang baik, meskipun bukan kesenangan yang harus diikuti dengan pendirian.
3.      Aliran Cynic
Pendiri aliran Cynic ialah Antisthenes, yang menyatakan bahwa keutamaan adalah satu-satunya perkara yang berharga dan yang menjadi tujuan hidup. Yang dimaksud keutamaan disini ialah sikap zuhud dan meninggalkan dunia. Diogenes dari sinope merupakan contoh terbaik dari filosof-filosof dari aliran Cynic.
Filsafat Plato merupakan perdamaian antara ajaran Parmenides dan ajaran Herakleitos. Dalam dunia ide-ide segala sesuatu abadi, dalam dunia yang kelihatan, dunia kita yang tidak sempurna, segala sesuatu mengalami perubahan. Filsafat Plato, yang lebih bersifat khayal dari pada suatu sistem pengetahuan, sangat dalam dan sangat luas dan meliputi logika, epistemologi, antropologi, teologi, etika , politik, ontologi, filsafat alam dan estetika. Plato mengutarakan perhatiannya kepada unsur (zat) mutlak dan universal untuk pengalaman. Yang mencerminkan paduan antara fikiran Socrates dan fikiran-fikiran lain yang sebelumnya.
Kita berhutang budi kepada Plato karena kedua kebenaran yang dikemukakannya yaitu:
1.      Agar pengetahuan manusia bisa mencapai kebenaran, maka fikirkanlah yang harus menjadi titik pangkalnya.
2.      Semua pemikiran manusia bekerja dengan memakai konsep-konsep yang universal.
3.      Ajarannya tentang ide-ide universal mempunyai pengaruh yang besar dalam sejarah filsafat, dan pada masa sekarang merupakan faktor yang penting pada tiap-tiap pemikiran filsafat.
Aristoteles (384-322), guru Iskandar Agung, adalah murid Plato. Ia adlah pendiri Empirisme adari dunia purba Plato menempatkan filsafat dalam suatu perlawanan yang baik sekali terhadap actuality (wujud nyata), sedang konsepsi-konsepsi tentang perkara-perkara yang lebih realistis ditambahkan oleh AristoTetapi dalam banyak hal ia tidak setuju dengan plato. Ide-ide menurut Aristoteles tidak terletak dalam suatu “surga” diatas dunia ini, melainkan di dalam benda-benda sendiri. Setiap benda terdiri dari dua unsur yang tak terpisahkan, yaitu materi (hylè) dan bentuk(morfè).
Bentuk-bentuk memberi kenyataan kepada materi dan sekaligus merupakan tujuan dari materi. Filsafat Aristoteles sangat sistematis. Sumbangannya kepada perkembangan ilmu pengetahuan besar sekali, seperti penemuannya tentang metode induksi, yakni proses menyimpulkan dari pengetahuan yang bersifat khusus ke pengetahuan yang  bersifat umum. Tulisan-tulisan Aristoteles meliputi bidang logika, etika, politik, metafisika, psikologi, dan ilmu alam serta buku-bukunya dipakai sebagai suatu standar dalam berbagai-bagai bidang filsafat.
a.       Zaman Patristik
Patristik (dari kata Latin “ Patres”, “Bapa-bapa Gereja”). Ajaran falsafi-teologis dari Bapa-bapa Gereja menunjukkan pengaruh Plotinos. Mereka berusaha untuk memperlihatkan bahwa iman sesuai dengan pikiran-pikiran paling dalam dari manusia. Mereka berhasil membela ajaran Kristiani terhadap tuduhan dari pemikir-pemikir  kafir. Tulisan-tulisan Bapa-bapa Gereja merupakan suatu sumber yang kaya dan luas yang sekarang masih tetap memberi inspirasi baru.
b.      Zaman Skolastik
Sekitar tahun 1000 M peranan Plotinos alih oleh Aristoteles. Aristoteles menjadi terkenal kembali melalui beberapa filsuf Islam dan Yahudi, terutama melalui Avicena (Ibn Sina, 980-1037), Averroes(Ibn Rushd, 1126-1198), dan Maimonides (1135-1204). Pengaruh Aistoteles lama-kelamaan begitu besar sehingga ia disebut “Sang Filsuf”, sedangkan Averroes disebut “Sang Komentator”. Pertemuan pemikiran Aristoteles dengan iman Kristiani menghasilkan banyak filsuf penting. Mereka sebagian besar berasal dari kedua ordo baru yang lahir dalam Abad Pertengahan, yaitu para Dominikan dan Fransiskan.
Filsafat mereka disebut Skolastik (dari kata Latin, “Scholasticus”, “guru”). Karena, dalam periode ini filsafat diajarkan dalam sekolah-sekolah biara dan universitas-universitas menurut suatu kurikulum yang tetap dan yang bersifat internasional. Tema-tema pokok dari ajarkan mereka itu: hubungan iman-akal budi, adanya dan hakikat Tuhan, antropologi, etika dan politik. Ajaran Skolastik dengan sangat bagus diungkapkan dalam puisi Dante Alighieri (1265-1321).
c.       Zaman Modern
·         Zaman Renaissance
Jembatan antara Abad Pertengahan dan Zaman Modern, periode antara sekitar 1400 M dan 1600 M, disebut “renaissance” (zaman  “kelahiran kembali”). Dalam zaman renaissance, kebudayaan klasik dihidupkan kembali. Kesusateraan, seni, dan filsafat mencapai inspirasi mereka dalam warisan  Yunani-Romawi. Filsuf-filsuf terpenting dari rainassance itu adalah adalah Nicollo Macchiavelli (1469-1527), Thomas Hobbes (1588-1679), Thomas More (1478-1535), dan Francis Bacon (1561-1626).
Pembaharuan terpenting yang kelihatan dalam filsafat renaissance itu “antroposentris”-nya. Pusat perhatian pemikiran itu tidak lagi kosmos, seperti dalam zaman kuno, atau Tuhan, seperti dalam Abad Pertengahan, melainkan manusia. Mulai sekarang manusialah yang dianggap sebagai titik fokus dari kenyataan.
·         Zaman Pencerahan
Abad kedelapan belas memperlihatkan perkembangan baru lagi. Setelah reformasi, setelah renaissance dan setelah rasionalisme dari zaman barok, manusia sekarang dianggap “dewasa”. Periode ini dalam sejarah Barat disebut “zaman pencerahan” atau “pencerahan “ (dala bahasa Inggris, “Enlightenment” dam bahasa Jerman , “Aufklarung”). Filsuf-filsuf besar dari zaman ini di Inggris “empirisus-empirisus” seperti John Locke (1632-1704), George Berkeley (1684-1753), dan David Hume (1711-1776). Di perancis Jean Jacque Rousseau (1712-1778) dan di Jerman Immanuel Kant (1724-1804), yang menciptakan suatu sintesis dari rasionalisme dan empirisme dan yang dianggap sebagai filsuf terpenting dari zaman modern.
·         Zaman Romantik
Filsuf-filsuf besar dari romantik lebih-lebih berasal dari Jerman, Yaitu J. Fichte (1762-1814), F. Schelling (1775-1854) , dan G. W. F. Hegel (1770-1831). Aliran yang diwakili oleh ketiga filsuf ini disebut “idealisme”. Dengan idealisme di sini imaksudkan bahwa mereka memprioritaskan ide-ide, berlawanan dengan materalisme yang memproritakna semua meterial. Yang terpenting dari para idealis kedua puluh harus dianggap sebagai lanjutan dari filsafat Hegel, atau justru sebagai  reaksi terhadap filsafat Hegel.
·         Masa Kini
Dalam abad ketujuh belas dan kedelapan belas sejaah filsafat Barat memperlihatkan aliran-aliran yang besar, yang mempertahankan diri lama dalam wilayah-wilyah yang luas, yaitu rasionalisme, empirisme, dan idealisme. Dibandingkan dengan itu, filsafat barat dalam abad kesembiln belas dan kedua puluh kelihatan terpcah-pecah. Macam-macam aliran baru muncul, dan aliran-aliran ini sering terikat pada hanya satu negara atau satu lingkungan bahasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar