PERKEMBANGAN
SEJARAH FILSAFAT
ISLAM
DAN BARAT
Pengertian
Filsafat
Secara
etimologi atau asal usul bahasa, kata filsafat berasal dari bahasa Yunani,
“philosophia”, yang merupakan penggabungan dua kata yakni “philos” atau
“philein” yang berarti “cinta”, “mencintai” atau “pecinta”, serta kata “sophia”
yang berarti “kebijaksanaan”. Cinta artinya hasrat yang besar atau yang
berkobar-kobar atau yang sungguh-sungguh. Kebijaksanaan, artinya kebenaran
sejati atau kebenaran yang sesungguhnya.
Sedangkan secara epistemologi
(istilah), terdapat ratusan rumusan pengertian “filsafat”. Namun secara
mendasar, filsafat adalah hasrat atau keinginan yang sungguh untuk menemukan
kebenaran sejati.
Mengutip The Liang Ge, Suhartono
suparlan, Ph.D. (2007:45-46) mengatakan bahwa, defenisi filsafat dapat
dipetakan menurut kronologi sejarah filsafat. Beberapa defenisi berdasarkan
kronologi tersebut adalah:
1. Plato
(427-347 SM), mengatakan bahwa filsafat adalah mengkritik pendapat-pendapat
yang berlaku. Jadi, kearifan atau pengetahuan intelektual itu diperoleh melalui
suatu proses pmeriksaan secara kritis, diskusi, dan penjelasan
2. Aristoteles
(384-322 SM), menyatakan bahwa filsafat sebagai ilmu menyelidiki, tentang hal
ada sebagai hal ada yang berbeda dengan bagian-bagiannya yang satu atau
lainnya. Ilmu ini juga dianggap sebagai ilmu yang pertama dan terakhir, sebab
secara logis disyaratkan adanya ilmu lain yang juga harus dikuasai, sehingga
untuk memahaminya orang harus memahaminya orang harus menguasai ilmu-ilmu yang
lain itu.
Sejak
masa Aristophaneus dan selanjutnya seorang filosof dianggap sebagai
filosof dianggap sebagai seorang yang
tidak mempunyai pekerjaan praktis serta tenggelam dalam pemikiran yang tidak
berguna dan dalam khayalan belaka. Akan tetapi, sebagaimana telah dikatakan
oleh Aristoteles, untuk membuktikannya bahwa filsafat itu tidak perlu, bahkan
menipu, kita terpaksa harus berfilsafat juga. Orang-orang skeptis (peragu-ragu)
termasuk golongan filosof pula seperti orang-orang idealis juga.
Sarjan-sarjana
‘ilmu pasti (matematis) pada akhirnya memerlukan juga kepada soal waktu dan
ruang ‘ilmu fisika kepada soal benda dan tenaga: ‘ilmu kesenian kepada
keindahan. Jadi filsafat kelihatannya merupakan suatu keharusan bagi kehidupan
manusia.
Pengertian
Filsafat pada Abad Modern
Kant mendefenisikan “filsafat”
sebagai pengetahuan yang memakai jalan (methode) pikiran semata-mata.
Herbert (w. 1841 M) mendefenisikan
filsafat sebagai suatu pekerjaan yang timbul dari pemikiran, dan ia membaginya
kepada tiga bagian, yaitu; logika metafisika dan estetika (termasuk di dalamnya
etika).
Comte (w.1857 M) dan spencer (w.1903
M) memendang filsafat sebagai pemaduan (penggabungan) dan penggolongan
bermacam-macam ‘lmu-ilmu dengan suatu pandangan kearah yang bersifat meteril
semata-mata. (jelasnya terbatas kepada ilmu-ilmu alam).
Ketika masih dipakai dalam
pengertian yang lebih luas, maka filsafat meliputi logika, metafisika ontologi
cosmologi, dan psychologi (‘ilmu jiwa). Ekonomi, politik, filsafat hukum dan
sejarah, sering-sering termasuk dalam filsafat. Mekipun tidak termasuk dalam
pengertian yang khusus.
Untuk dapat memberikan gambaran
sepintas lalu tentang perkembangan filsafat, maka filsafat ini akan diartikan
sebagai suatu “ilmu yang meliputi
epitemologi, atau teori mengenal (theory of knowledge) metafisika dan ontologi.
Tugas filsafat yang utama ialah menunjukkan pertaliannya ‘ilmu-‘ilmu dan
bercabang-cabangnya sebagai bagian dari suatu keseluruhan (organic whole) yang
membentuk suatu induk.
Sejarah
Filsafat Islam
Sebelum
Islam bangsa Arab belum mengenal perkataan ”filsafat” meskipun mereka mempunyai
“hikmah” dan “hakim”. Al-Quran berulang kali menyebut kata bahwa hikmah itu
datang dari Tuhan yang bernama “Al-Hakim”. Jadi hikmah merupakan mauhibah
(kurnia) ilahi kepada orang yang dikehendaki-Nya, sehingga demikian ia
mendapatkan petunjuk di dalam hidupnya. Lain halnya dengan filsafat yang
menjelma dari karsa akal manusia. Akal itulah yang diberikan Tuhan, maka dengan
akal itu manusia berusaha untuk membentuk suatu ilmu pengetahuan yang disebut ”
Filsafat”.
Perintis pertama kearah filsafat
yang lebih jelas dan sistematis ialah kalangan pemikir-pemikir Yunani kuno,
yang bahan-bahan pemikiran mereka menjelma dari kebudayaan-kebudayaan
Babilonia, Kaldania, Mesir dan daerah-daerah Asia Barat yang telah lama
mengenal kebudayaan. Dari itulah lahirnya filosof-filosof Thales, Aniximadros,
Anaximenes, berlanjut dengan Socrates, Plato, dan Aristoteles, kemudian datang
pula Plotinus membawa pembaharuan sistem filsafat orang-orang yang
mendahuluinya.
Aliran Muktazilah merupakan aliran
yang tertua dalam sejarah perkembangan pemikiran islam. Meskipun aliran
Muktazilah ini tidak dapat dimasukkan kedalam filsafat, namun aliran ini telah
memainkan peranan yang penting dalam menggunakan filsafat sebagai alat
mempertahankan kebenaran akidah islam dari gangguan-gangguan kebatilan, justru
itu aliran ini merupakan aliran rasional dalam masalah akidah. Beginilah asal
mula lahirnya aliran Muktazilah, yang
dapat kita katakan sebagai fase pertama pertama perkembangan Muktazilah.
Ketika datang ke Timur Tengah pada
abad IV SM, Aleksander Yang Agung membawa bukan hanya kaum militer tetapi kaum
sipil. Tujuannya bukanlah hanya meluaskan daerah kekuasaannya keluar Macedonia,
tetapi juga menanamkan kebudayaan Yunani di daerah-daerah yang dimasukinya.
Untuk itu, ia adakan pembauran antara orang-orang Yunani yang dibawanya, dengan
penduduk setempat. Dengan jalan demikian berkembanglah falsafah dan ilmu
pengetahuan Yunani di Timur Tengah, dan timbullah pusat-pusat peradaban Yunani,
seperti Iskandariah (dari nama Aleksander) di Messir, Antakia di Suria,
Selopsia serta Jundisyapur di Irak, dan Baktra (sekarang Balkh) di Iran (lihat
Harun Nasution:1992).
Perkembangan Filsafat
Islam
Munculnya
aliran Muktazilah diawali dengan perbedaan pendapat anatara seorsng murid
dengan gurunya dalam masalah mukmin yang melakukan dosa besar. Sang murid
dengan gurunya dalam masalah mukmn yang melakukan dosa besar. Sang murid yang
bernama Washil bin Atha berpendapat, bahwa orang tersebut bukan mukmin lagi,
namun pua jatuh menjadi kafir, tetapi disebut “fasik”. Sedangkan gurunya Hasan
Al-Bashari masih tetap menganggap orang itu adalah mukmin, hanya saja ia telah
jatuh ke dalam dosa (‘ashy).
Perbedaan pendapat tersebut terus
membawa ketegangan, sehingga Washil memisahkan dirinya dari Majelis Pengajiasn
Al-Hasan di suatu sudut dalam Jami’ Bashrah. Pengajian ini semakin lama semakin
meluas juga, sehingga Washil pun dapat mengembangkan fahamnya kepada
murid-muridnya, yang selanjutnya menjadi satu aliran tersendiri dalam agama.
Dan inilah yang disebut fase pertama.
Selanjutnya, pada fase kedua tatkala
masuknya filsafat Yunani kedalam Islam di masa Abbasiyah, maka kaum Muktazilah
turut ambil bagian dalam mendalai filsafat. Dimasa inilah munculnya tokoh-tokoh
terkemuka aliran ini, yang antara lain ialah Abu Al-Huazail Al-Allaf (135—226
H./753 —840 M.) Ibraim An-Nazzam (wafat 231 H./845 M.), Muammar As-Sulmy (wafat
220 H./835 M.), Basyr Al-Muktamir (wafat 26 H.840 M.) dan Al-Jahizh (wafat
225H./808 M.). Dengan bersenjatakan filsafat tokoh-tokoh ini menggali dan
mempertahankan akidah yang mereka anut.
Karena mereka sudah masuk medan
filsafat, maka dengan sendirinya mereka meletakkan akal sebagai bahan penimbang
yang paling utama. Segala persoalan dipecahkan dengan akal, baru sesudahnya
dipertalikan dengan nakal. Maka diantara aliran-aliran yang ada dalam ilmu
kalam aliran Muktazilahlah yang paling dominan mempergunakan akal(rasio).
Dalam sejarah pemikiran Islam
teologi rasional yang dipelopori kaum Muktazilah, ciri-ciri dari teologi
rasional ini ialah:
a)
Kedudukan akal tinggi di dalamnya,
sehingga mereka tidak mau tunduk kepada arti harfiah dari teks wahyu yang tidak
sejalan dengan pemikiran filosofis dan ilmiah. Mereka tinggalkan arti harfiah
teks dan ambil arti tersurat dari nash
wahyu dan mengambil arti tersiratnya. Mereka dikenal banyak memakai tawil dalam
memahami wahyu.
b)
Akal menunjukkan kekuatan manusia,
maka akal yang kuat menggambarkan manusia yang kuat yaitu manusia dewasa.
Manusia dewasa, berlainan dengan anak kecil, mampu berdiri sendiri, mempunyai
kebebasan dalam kemauan serta perbuatan, dan mampu berpikir secara mendalam.
Karena itu aliran manganut paham Qadariah, yang dibarat dikenal dengan istilah free-will and free-act, yang membawa
kepada konsep manusia yang penuh dinamika, baik dalam perbuatan maupun
pemikiran.
Pemikiran
filosofis mereka membawa kepada penekanan konsep Tuhan Yang Maha adil. Maka,
keadilan Tuhanlah yang menjadi titik tolak.
Setelah mereka berkecimpung dengan
filsafat, akhirnya permasalahan tampak semakin meluas mencakup masalah-masalah
ketuhanan, qadar dan masalah nilai baik dan buruk, yang semuanya itu dibahas
dengan akal secara filsafat.
Sejarah Filsafat Barat
Banyak sekali karya filsafat yang
muncul sesudah berakhirnya aliran Hegel. Namun keadaannya sama saja, yaitu
bahwa karya-karya tersebut tidak berisi suatu semangat mengadakan
pemikiran/renungan murni semata-mata (enthusias inspeculation for its new
sake), melainkan lebih suka untuk melihat apa yang telah difikirkan oleh orang
lain, atau dengan perkataan lain, lebih suka memasuki sejarah fisafat.
Diantara filosof-filosof seperti
Reinold dan Chalybus lebih terkenal sebagai ahli sejarah filsafat, daripada
sebagai pengurai (Expositor) suatu sistem filsafat, sedang buku karangan Fren
delenberd, yaitu “History of the doctrine of categories” di Jerman lebih banyak
dibaca daripada buku lain, yaitu “logical investigation.”
Sebenarnya, sebagaimana yang dicatat
oleh Erland, kuatnya unsur sejarah ini, dapat dilihat, meskipun dalam pemikiran-pemikiran
itu sendiri, terutama dalam bentuk diskusi yang kritis yang terkandung dalam
mukadimah sejarah. Satu-satunya pengecualian kelihatannya hanya Lotze dan Weise
(1801-1866). Untuk karya-karya terkenal seperti, Orgamun of the philosophical
idea, dari Hellebrand, dan idea of the godhead dari Wirth, sebenarnya merupakan
ihtisar sejarah filsafat.
Dalam hubungan ini, Erdman
mengemukakan bahwa Ulrchi (1806-1884) telah banyak menerima pujian karena
kritik-kritiknya terhadap filsafat Hegel tetapi dalam hal berhubungan dengan
teori tentang pemisahan kegiatan, kelihatannya ia berdiri sendiri, meskipun
demikian, ia tidak berpendapat bahwa pilihan yang jelas merupakan suatu tanda
kerapuhan filsafat (kelemahan filsafat-philosophical decreptude) dan ia melihat
suatu perseuaian yang dapat dipastikan pengaruhnya terhadap pembahasan hukum
dari tulisan-tulisan historis yang sangat bernilai dari savignya.
Perkembangan Filsafat
Barat
Dalam buku ‘Euthydemus’ plato
menerangkan bahwa filsafat hanya memperhatikan soal-soal kerohanian dan penuh
ideal dan sama dengan pengetahuan, dan kadang-kadang disamakan dengan
pengetahuan tentang wujud (ontology).
Ketika otak-otak besar di dunia
masih berkemampuan luar (pre eminent) bukan saja dalam bidang satu atau dua
cabang ‘ilmu, tetapi juga dalam kebanyakan cabang “ilmu, tetapi juga dalam
kebanyakan cabang ‘ilmu, maka orang filosof dapat membentuk sistem filsafatnya
dari pengetahuan dan pengalamannya sendiri.
Tokoh-tokoh scholastik dan
neoschlostik mendefenisikan filsafat
sebagai pengetahuan tentang yang ada melalui semua sebab-sebab yang tertinggi,
artinya yang paling universil dan paling tidak tergantung kepada yang lain (the
knowledge of things through theirs highest (i.e.), ost universal and
independent causes).
Kemajuan yang sangat bernilai pada
masa modern ialah Phychology (‘ilmu jiwa), yang pada umumnya sekarang
dipelajari sebagai ilmu yang terpisah dari filsafat yang diinginkan oleh
sementara orang, layaknya diperlukan sebagai ‘ilmu alam adanya.
Logika, etika dan estetika, meskipun
merupakan unsur pembentuk filsafat dan menjadi bagiannya namun berbeda dengan
bagian-bagian filsafat yang lain, karena bagian-bagian tersebut adalah
pengetahuan yang bersifat normatif yakni berdasarkan norma-norma atau sandaran
(standard) tertentu, yaitu: kebenaran untuk logika, keutamaan untuk etika dan
keindahan untuk estetika.
Filsafat diartikan sebagai suatu
‘ilmu yang meliputi epistemologi, atau teori mengenal (theory of knowledge)
metafisika dan ontologi. Tugas filsafat yang utama ialah menunjukkan
pertaliannya ‘ilmu-‘ilmu dan bercabang-cabangnya sebagai bagian dari suatu
keseluruhan (organic whole) yang membentuk suatu induk.
a. Zaman
Kuno
Filsafat barat
kuno dimulai dari filsafat pra-sokrates di Yunani. Sejarah filsafat Barat mulai
Milete, di Asia kecil, sekitar tahun 600
SM. Pada waktu itu, Milete merupakan kota yang penting, dimana banyak jalur
perdagangan bertemu di Mesir, Italia, Yunani, dan Asia. Milete juga menjadi
suatu pusat intelektual (pembahasan lebih lanjut tentang Filsafat Barat, lihat Darji Darmodiharjo dan
shidarta,(2004:58-78).
Pemikir-pemikir
besar di Milete lebih-lebih menyibukkan diri dengan filsafat alam. Mereka mancari suatu unsur induk
(arche) yang dapat dianggap sebagai asal segala sesuatu. Menurut Thales (±600
SM) airlah yang merupakan unsur induk ini. Menurut Anaximander (±610-540 SM),
segala sesuatu berasal dari “yang tak terbatas”, dan menurut Anaximenes
(±585-525 SM) udaralah yang merupakan unsur induk segala sesuatu. Phytagoras
(±500 SM) yang mengajar di Italia Selatan, adalah orang pertama yang menamai
diri “filsuf.
b. Puncak
Zaman Klasik: Sokrates, Plato, dan Aristoteles
Puncak filsafat
Yunani dicapai pada Sokrates, Plato, dan Aristoteles. Sokrates (± 470-00 SM),
guru Plato, mengajar bahwa akal budi harus menjadi norma terpenting untuk
tindakan kita. Plato (428-348), menggambarkan Sokrates sebagai seorang alim
yang mengajar bagaimana manusia dapat menjadi berbahagia berkat pengetahuan
tentang apa yang baik.
Seorang filosof
yang sangat berhasil menangkis alasan-alasan (fikiran-fikiran) golongan sofist
dan mengangkat kembali nama baik filsafat ialah socrates. Cara hidup dan
filsafatnya merupakan rangkaian yang tidak dapat dipisah-pisahkan, sabagaimana
yang terlihat dalam buku “Dialogus dari Plato.
Diantara ajaran
Sokrates adalah metode dialektika, yakni metode pencarian kebenaran secara
ilmiah melalui bercakap-cakap atau berdialog. Sokrates, misalnya selalu
bertanya-tanya “apakah itu salah atau tidak salah, apakah itu adil atau tidak
adil, apakah itu pemberani ataukah tidak pemberani, dan seterusnya”. Sokrates
menganggap jawaban pertama sebagai hipotesis dan dengan pertanyaan-pertanyaan
berikutnya ia menarik segala konsekuensi yang dapat disimpulkan dari jawaban
tersebut. Jalan pikirannya di tandaskan kepada pengetahuan
(kesadaran/knowledge).” Mengenai diri
sendiri “, merupakan kulminasi (puncak) seluruh filsafatnya dan merupakan
satu-satunya usaha manusia yang berharga Dia tidak mendirikan sesuatu aliran
filsafat, meskipun ia telah mendirikan titik tolak kepada beberapa lapangan
pikiran tertentu.
Aliran socrates
kecil aliran socrates yang tidak lengkap, seperti yang biasa disebut-sebut, ada
tiga yaitu:
1. Aliran
Megari
Pendiri aliran Megari
ialah Euclid dan Megara, dan sistem pemikirannya merupakan panduan antara Etika
Socrates dengan ajarannya ‘Wujud Esa’ (one being) dari permenides
2. Aliran
Cyrenaic
Pendiri aliran Cyrenaic
ialah Aristippus, merupakan penunjuk jalan (faro runner) bagi orang Epicure
yang mengatakan bahwa hanya kesenangan semata-mata yang baik, meskipun bukan
kesenangan yang harus diikuti dengan pendirian.
3. Aliran
Cynic
Pendiri aliran Cynic
ialah Antisthenes, yang menyatakan bahwa keutamaan adalah satu-satunya perkara
yang berharga dan yang menjadi tujuan hidup. Yang dimaksud keutamaan disini
ialah sikap zuhud dan meninggalkan dunia. Diogenes dari sinope merupakan contoh
terbaik dari filosof-filosof dari aliran Cynic.
Filsafat Plato
merupakan perdamaian antara ajaran Parmenides dan ajaran Herakleitos. Dalam
dunia ide-ide segala sesuatu abadi, dalam dunia yang kelihatan, dunia kita yang
tidak sempurna, segala sesuatu mengalami perubahan. Filsafat Plato, yang lebih
bersifat khayal dari pada suatu sistem pengetahuan, sangat dalam dan sangat
luas dan meliputi logika, epistemologi,
antropologi, teologi, etika , politik, ontologi, filsafat alam dan estetika. Plato mengutarakan
perhatiannya kepada unsur (zat) mutlak dan universal untuk pengalaman. Yang
mencerminkan paduan antara fikiran Socrates dan fikiran-fikiran lain yang
sebelumnya.
Kita berhutang
budi kepada Plato karena kedua kebenaran yang dikemukakannya yaitu:
1. Agar
pengetahuan manusia bisa mencapai kebenaran, maka fikirkanlah yang harus
menjadi titik pangkalnya.
2. Semua
pemikiran manusia bekerja dengan memakai konsep-konsep yang universal.
3. Ajarannya
tentang ide-ide universal mempunyai
pengaruh yang besar dalam sejarah filsafat, dan pada masa sekarang merupakan
faktor yang penting pada tiap-tiap pemikiran filsafat.
Aristoteles
(384-322), guru Iskandar Agung, adalah murid Plato. Ia adlah pendiri Empirisme
adari dunia purba Plato menempatkan filsafat dalam suatu perlawanan yang baik
sekali terhadap actuality (wujud nyata), sedang konsepsi-konsepsi tentang
perkara-perkara yang lebih realistis ditambahkan oleh AristoTetapi dalam banyak
hal ia tidak setuju dengan plato. Ide-ide menurut Aristoteles tidak terletak
dalam suatu “surga” diatas dunia ini, melainkan di dalam benda-benda sendiri.
Setiap benda terdiri dari dua unsur yang tak terpisahkan, yaitu materi (hylè) dan bentuk(morfè).
Bentuk-bentuk memberi
kenyataan kepada materi dan sekaligus merupakan tujuan dari materi. Filsafat
Aristoteles sangat sistematis. Sumbangannya kepada perkembangan ilmu
pengetahuan besar sekali, seperti penemuannya tentang metode induksi, yakni
proses menyimpulkan dari pengetahuan yang bersifat khusus ke pengetahuan
yang bersifat umum. Tulisan-tulisan
Aristoteles meliputi bidang logika, etika, politik, metafisika, psikologi, dan
ilmu alam serta buku-bukunya dipakai sebagai suatu standar dalam berbagai-bagai
bidang filsafat.
a. Zaman
Patristik
Patristik (dari
kata Latin “ Patres”, “Bapa-bapa Gereja”). Ajaran falsafi-teologis dari
Bapa-bapa Gereja menunjukkan pengaruh Plotinos. Mereka berusaha untuk
memperlihatkan bahwa iman sesuai dengan pikiran-pikiran paling dalam dari manusia.
Mereka berhasil membela ajaran Kristiani terhadap tuduhan dari
pemikir-pemikir kafir. Tulisan-tulisan
Bapa-bapa Gereja merupakan suatu sumber yang kaya dan luas yang sekarang masih
tetap memberi inspirasi baru.
b. Zaman
Skolastik
Sekitar tahun
1000 M peranan Plotinos alih oleh Aristoteles. Aristoteles menjadi terkenal
kembali melalui beberapa filsuf Islam dan Yahudi, terutama melalui Avicena (Ibn
Sina, 980-1037), Averroes(Ibn Rushd, 1126-1198), dan Maimonides (1135-1204).
Pengaruh Aistoteles lama-kelamaan begitu besar sehingga ia disebut “Sang
Filsuf”, sedangkan Averroes disebut “Sang Komentator”. Pertemuan pemikiran
Aristoteles dengan iman Kristiani menghasilkan banyak filsuf penting. Mereka
sebagian besar berasal dari kedua ordo baru yang lahir dalam Abad Pertengahan,
yaitu para Dominikan dan Fransiskan.
Filsafat mereka
disebut Skolastik (dari kata Latin, “Scholasticus”, “guru”). Karena, dalam
periode ini filsafat diajarkan dalam sekolah-sekolah biara dan
universitas-universitas menurut suatu kurikulum yang tetap dan yang bersifat
internasional. Tema-tema pokok dari ajarkan mereka itu: hubungan iman-akal
budi, adanya dan hakikat Tuhan, antropologi, etika dan politik. Ajaran
Skolastik dengan sangat bagus diungkapkan dalam puisi Dante Alighieri
(1265-1321).
c. Zaman
Modern
·
Zaman Renaissance
Jembatan
antara Abad Pertengahan dan Zaman Modern, periode antara sekitar 1400 M dan
1600 M, disebut “renaissance”
(zaman “kelahiran kembali”). Dalam zaman
renaissance, kebudayaan klasik
dihidupkan kembali. Kesusateraan, seni, dan filsafat mencapai inspirasi mereka
dalam warisan Yunani-Romawi.
Filsuf-filsuf terpenting dari rainassance
itu adalah adalah Nicollo Macchiavelli (1469-1527), Thomas Hobbes (1588-1679),
Thomas More (1478-1535), dan Francis Bacon (1561-1626).
Pembaharuan
terpenting yang kelihatan dalam filsafat renaissance itu “antroposentris”-nya.
Pusat perhatian pemikiran itu tidak lagi kosmos, seperti dalam zaman kuno, atau
Tuhan, seperti dalam Abad Pertengahan, melainkan manusia. Mulai sekarang
manusialah yang dianggap sebagai titik fokus dari kenyataan.
·
Zaman Pencerahan
Abad
kedelapan belas memperlihatkan perkembangan baru lagi. Setelah reformasi,
setelah renaissance dan setelah rasionalisme dari zaman barok, manusia sekarang
dianggap “dewasa”. Periode ini dalam sejarah Barat disebut “zaman pencerahan”
atau “pencerahan “ (dala bahasa Inggris, “Enlightenment” dam bahasa Jerman ,
“Aufklarung”). Filsuf-filsuf besar dari zaman ini di Inggris “empirisus-empirisus”
seperti John Locke (1632-1704), George Berkeley (1684-1753), dan David Hume
(1711-1776). Di perancis Jean Jacque Rousseau (1712-1778) dan di Jerman
Immanuel Kant (1724-1804), yang menciptakan suatu sintesis dari rasionalisme
dan empirisme dan yang dianggap sebagai filsuf terpenting dari zaman modern.
·
Zaman Romantik
Filsuf-filsuf
besar dari romantik lebih-lebih berasal dari Jerman, Yaitu J. Fichte
(1762-1814), F. Schelling (1775-1854) , dan G. W. F. Hegel (1770-1831). Aliran
yang diwakili oleh ketiga filsuf ini disebut “idealisme”. Dengan idealisme di
sini imaksudkan bahwa mereka memprioritaskan ide-ide, berlawanan dengan
materalisme yang memproritakna semua meterial. Yang terpenting dari para
idealis kedua puluh harus dianggap sebagai lanjutan dari filsafat Hegel, atau
justru sebagai reaksi terhadap filsafat
Hegel.
·
Masa Kini
Dalam
abad ketujuh belas dan kedelapan belas sejaah filsafat Barat memperlihatkan
aliran-aliran yang besar, yang mempertahankan diri lama dalam wilayah-wilyah
yang luas, yaitu rasionalisme, empirisme,
dan idealisme. Dibandingkan dengan itu, filsafat barat dalam abad kesembiln
belas dan kedua puluh kelihatan terpcah-pecah. Macam-macam aliran baru muncul,
dan aliran-aliran ini sering terikat pada hanya satu negara atau satu
lingkungan bahasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar